Sejak awal dekade 2000-an lalu, para ahli kelautan Indonesia telah melaksanakan riset bersama dengan para ahli kelautan dari Scripps Institution of Oceanography yang bermarkas di San Diego, California, AS.
Terlibat dalam kegiatan riset bersama Scripps ini, para ahli kelautan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menggunakan armada kapal riset Indonesia, Baruna Jaya.
Kerjasama riset ini menghasilkan fenomena oseanografi yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (Arlindo), atau Indonesian Through-Flow (ITF), guna mempelajari arah, kecepatan, volume dan temperatur arus laut dari Samudera Pasifik, melewati selat selat perairan Nusantara, menuju Samudera Hindia.
Hasil pantauan Arlindo dipakai untuk memprakirakan kehadiran variabilitas iklim El Nino dan La Nina, hingga 24 bulan kedepan. Prakiraan iklim kedepan ini sangat penting berkaitan dengan prakiraan kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan, gagal panen, hingga pergeseran sebaran ikan di laut.
Guna memperluas kerjasama kelautan antara Indonesia dengan Lembaga Scripps ini, maka pada 10 April 2026, Duta Besar RI Indroyono Soesilo telah berkunjung ke Scripps Institutions of Oceanography di San Diego dan diterima Direktur Scripps Dr.Meenakshi Wadha, serta Dr.Erric Terrill, Direktur Marine Physical Oceanography Scripps.
Dalam pertemuan tadi, telah dibahas rintisan kerjasama Indonesia dan Scripps dalam pengembangan teknologi pelampung laut (buoy) dan unmanned underwater vehicle (UUV – Drone Laut) antara Scripps Institution of Oceanography, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Hidro-Oseanografi TNI-AL (Pushidrosal), dan mitra nasional lainnya, sebagai lompatan penting bagi sistem observasi laut Indonesia.
Scripps memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan smart buoy, jaringan platform otonom, serta integrasi dengan uncrewed surface vehicle (USV), membawa sensor bawah air dan kendaraan bawah air, untuk pemantauan arus, gelombang, kualitas air, hingga akustik laut secara hampir real-time. Lembaga ini juga tengah membangun kapal riset hidrogen-hybrid generasi baru, yang dirancang sebagai laboratorium bergerak untuk pengujian teknologi observasi laut beremisi rendah.
Di sisi Indonesia, BRIN dan sebelumnya BPPT, telah mengembangkan berbagai sistem buoy tsunami seperti InaBuoy, Bouy Merah Putih dan teknologi deteksi gempa-tsunami berbasis pelampung laut.
InaBuoy / InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) – sistem buoy dan perangkat terkait untuk deteksi gempa–tsunami, dikembangkan sejak era BPPT dan kini didukung BRIN, Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika (BMKG), dan kementerian/lembaga lain. Saat ini pula, BRIN sedang menyiapkan armada kapal riset nasional berteknologi maju yang dilengkapi Remotely Operated Vehicle (ROV) dan peralatan survei bawah laut lainnya.
Bersama Pushidrosal, BRIN memperkuat kerja sama survei dan pemetaan dasar laut, termasuk pemanfaatan kapal riset dan pengembangan pemodelan “digital twin” untuk wilayah perairan strategis. Pushidrosal sendiri menjadi pembina data hidro-oseanografi nasional dan mitra kunci dalam pemetaan, keselamatan navigasi, serta pengembangan peta laut elektronik berbasis data real-time.
Melalui kolaborasi Indonesia – AS ini, jaringan buoy cerdas dan UUV dapat dirancang untuk memantau selat strategis dan pesisir padat, sekaligus memperkuat peringatan dini bencana, keamanan pelayaran, dan ekonomi biru Indonesia. Dalam waktu dekat, segera digelar pertemuan antara lembaga lembaga riset kelautan di Indonesia dengan Scripps Institution of Oceanography di San Diego – California AS.
***



