Dalam kesempatan menyampaikan Country Report dalam Global Summit: Advancing Sustainable Forest-Based Bioeconomy Approaches di Vienna, Austria, Delegasi Indonesia menegaskan bahwa untuk meningkatkan produktivitas hutan melalui pengembangan forest-based bioeconomy perlu aksi nyata dalam sistem pengelolaan hutan secara lestari (sustainable forest management). Dengan terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) tahun 2022 yang telah direvisi melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, pengembangan bio-economy dilakukan dalam bentuk Multi Usaha Kehutanan (MUK).
“Manfaat hutan yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi tidak hanya dari hasil kayunya, namun juga dari hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan dan wisata alam,” ujar Krisdianto, Delegasi Indonesia dalam Global Summit tersebut.
Krisdianto menambahkan bahwa sejak UUCK, perizinan pemungutan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dalam kerangka Multi Usaha Kehutanan (MUK) telah menjadi satu dalam Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan pemegang izin telah melakukan revisi Rencana Kerja Usaha (RKU) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) untuk pengembangan manfaat ekonomi hutan.
Dalam kesempatan pembukaan Summit, Federal Minister of Agriculture and Forestry, Climate and Environmental Protection, Regions and Water Management, Republic of Austria, Norbert Totschnig menekankan pentingnya peran hutan dalam menjawab tantangan perubahan iklim, mendukung pembangunan pedesaan, serta mendorong transisi menuju bioekonomi berkelanjutan.
Lebih lanjut disampaikan mengenai perlunya memperkuat kerja sama internasional, pertukaran pengetahuan, dan inovasi untuk memaksimalkan potensi bioekonomi berbasis hutan. Selain itu, disampaikan bahwa pengelolaan hutan lestari harus menjadi fondasi utama agar manfaat ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati.
Global Summit: Advancing Sustainable Forest-Based Bioeconomy Approaches merupakan Country and Organization-Led Initiative (COLI), dengan Austria dan Afrika Selatan sebagai Co-Chairs, serta Australia, Finlandia, Jepang, Türkiye, FAO, International Union of Forest Research Organizations (IUFRO) dan United Nations Forum on Forest Secretariat (UNFFS) sebagai Co-Conveners.
Pertemuan yang dihadiri 60 negara dan kurang lebih 120 organisasi internasional dan regional ini, terbagi menjadi high level session, business talk session, science talk session, communication session dan sesi tematik. Luaran dari global summit ini adalah dokumen Vienna Call for Actions dan Co-Chairs Summary, yang akan disampaikan pada pertemuan UNFF ke-21 tanggal 11-15 Mei 2026 dan pertemuan Committee on Forestry (COFO) ke-28 pada September 2026.
Dalam High Level Session, sejumlah negara dan organisasi menyampaikan pandangan yang relatif seragam mengenai arah pengembangan sustainable forest-based bioeconomy. Austria dan Finlandia menekankan pentingnya integrasi bioekonomi dalam kebijakan iklim, industri, dan inovasi, serta peran konstruksi kayu sebagai solusi material untuk konstruksi yang rendah karbon dan renewable.
Australia, Jepang, dan Türkiye menyoroti perlunya koherensi kebijakan lintas sektor dan penguatan rantai nilai yang berkelanjutan melalui standardisasi dan inovasi teknologi. Sementara itu, FAO, UNFF, dan IUFRO menegaskan pentingnya pendekatan berbasis sains, penguatan science–policy interface, serta kerja sama multilateral untuk mempercepat implementasi bioekonomi berbasis hutan secara inklusif dan berkelanjutan.
Dalam Business Talk session, pelaku industri dan organisasi menyampaikan pandangan yang sejalan mengenai meningkatnya peluang investasi pada produk bio-based, khususnya kayu dan non-kayu, namun masih menghadapi tantangan, antara lain belum ada regulasi yang spesifik, keterbatasan pembiayaan, serta kebutuhan standar mutu komoditi yang lebih harmonis.
Perwakilan sektor swasta dan mitra internasional menekankan pentingnya kepastian hukum, sistem legalitas dan traceability rantai pasok untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan konsumen. Selain itu, disoroti pula perlunya penguatan kemitraan publik dan swasta guna mempercepat inovasi, regenerasi hutan, serta pengembangan rantai nilai yang berkelanjutan.
Sementara itu, pada Science Talk session, lembaga riset seperti IUFRO, Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF), dan International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA) menyampaikan pandangan yang selaras mengenai pentingnya kebijakan berbasis bukti ilmiah untuk mendukung bioekonomi berbasis hutan. Diskusi juga menggarisbawahi perlunya penguatan science–policy interface, termasuk penyusunan rekomendasi yang lebih aplikatif dan mudah diimplementasikan oleh pembuat kebijakan.
Dalam sesi Communication session, dibahas pentingnya narasi bersama dan komunikasi publik yang lebih kuat untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan terhadap solusi berbasis hutan, termasuk melalui inisiatif Grow the Solution oleh FAO.
Sejumlah negara dan organisasi menyoroti perlunya kolaborasi lintas aktor untuk menyelaraskan pesan, memperluas kampanye, serta mendorong dukungan terhadap pengelolaan hutan lestari dan bioekonomi berbasis hutan.
Pada sesi tematik, terdapat 6 (enam) topik bahasan, yaitu:
• Policy meets practices: menekankan perlunya integrasi bioekonomi berbasis hutan ke dalam kebijakan lintas sektor melalui koordinasi yang lebih kuat, penyelarasan regulasi, dan penguatan kapasitas implementasi.
• Sourcing wealth and financing opportunities: menyoroti kesenjangan pembiayaan kehutanan global dan pentingnya instrumen pembiayaan inovatif, de-risking, serta kemitraan publik dan swasta untuk meningkatkan akses investasi berkelanjutan.
• Building the future with wood: sejumlah negara menilai konstruksi kayu sebagai solusi konstruksi rendah karbon yang perlu didukung melalui pembaruan standar bangunan, rantai pasok lestari, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
• Forest potentials beyond wood: menggarisbawahi pentingnya produk hutan bukan kayu dan jasa ekosistem lainnya bagi penghidupan masyarakat serta perlunya penguatan hak akses, nilai tambah lokal, dan standar pasar.
• Advancing forest-based value chains: Diskusi menekankan transformasi rantai nilai menuju model sirkular dan transparan melalui digitalisasi, harmonisasi standar keberlanjutan, dan peningkatan kapasitas pelaku lokal.
• Growing forest-based innovations: mendorong penguatan ekosistem inovasi bio-based melalui kolaborasi riset–industri–komunitas serta dukungan kebijakan dan pembiayaan untuk mempercepat skala implementasi.
Dalam penutupan Global Summit tersebut, Delegasi Indonesia menyatakan dukungannya terhadap dokumen Vienna Call for Actions dan Co-Chairs Summary, dengan memberikan penekanan bahwa pengelolaan hutan lestari tidak hanya tugas Pemerintah, namun menjadi tanggung jawab seluruh pihak, terutama pihak-pihak yang mengambil manfaat dari hutan.
***



