Empat decade sejak menamatkan pendidikan doktoralnya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, kembali mengunjungi almamaternya, University of Iowa di Iowa City, dalam suatu kunjungan resmi, yang bertujuan memperkuat kerjasama konkret di bidang riset dan pendidikan tinggi. Dalam kunjungan tersebut, turut hadir Konsul Jenderal Republik Indonesia di Chicago, Trisari Dyah Paramita.
Kunjungan ini menjadi momen bersejarah sekaligus penuh nostalgia. “Empat puluh tahun lalu, saya adalah mahasiswa program doktor (PhD) di kampus University of Iowa ini. Hari ini, saya kembali sebagai Duta Besar Indonesia. Ini bukan sekadar nostalgia pribadi, melainkan momentum untuk menterjemahkan kenangan menjadi kerjasama konkret di bidang pendidikan tinggi dan riset”, ucap Dubes Indroyono.
Duta Besar Indroyono menempuh pendidikan S3 di bidang Geologic Remote Sensing pada University of Iowa dan memperoleh gelar PhD pada tahun 1987, dengan judul disertasi: A Multi-Level Remote Sensing Technique For Regional Geologic Investigation In Tropical Areas, Through A Study Of The Sukabumi and Lembang Areas, West Java, Indonesia.
Dalam pertemuan dengan Dekan School of Earth, Environment and Sustainability, Professor Emily Finzel dan jajaran Guru Besar, Dubes RI membahas peluang kolaborasi untuk riset bersama, khususnya untuk eksplorasi dan ekstraksi bidang critical minerals dan rare earth minerals, lewat pembiayaan bersama (co-funding), serta pemberian beasiswa LPDP bagi kandidat PhD dari Indonesia di University of Iowa, bagi kandidat Doktor yang melaksanakan riset mengambil topik rare earth minerals, atau Logam Tanah Jarang ini.
Duta Besar RI juga mengunjungi Stanley Museum of Art, museum seni terkemuka di University of Iowa, yang dikenal memiliki koleksi karya seni lintas budaya dan lintas periode, mulai dari seni Afrika, Asia, hingga karya modern dan kontemporer.
Bersama Konsul Jenderal RI di Chicago, pertemuan dengan Direktur Stanley Museum of Art, Dr. Lauren Lessing, membahas potensi kerjasama promosi budaya Indonesia dalam bentuk pameran non-permanen di Museum, salah satunya mengenai ragam tekstil Nusantara.
Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar dan Konjen RI meluangkan waktu untuk berdialog dengan para pejabat Program Internasional University of Iowa, bersama mahasiswa dan alumni Indonesia di University of Iowa.
Dalam sesi tersebut, Duta Besar Indroyono berbagi pengalaman akademik dan perjalanan karier setelah lulus, sekaligus berdiskusi mengenai upaya peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia di University of Iowa, promosi Indonesia, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan. Direktur Eksekutif Center for Advancement Studies University of Iowa, Dr. Katharine Lasansky menjelaskan bahwa khusus untuk bidang AI, kini terbuka program singkat Certificate, atau Non-Degree, untuk penguasaan berbagai perangkat lunak AI bagi para mahasiswa. Akan dijajagi kemungkinan program AI Certificate ini bagi para professional dari Indonesia.
Kunjungan ditutup dengan pertemuan dengan masyarakat Indonesia yang berdomisili di wilayah sekitar Des Moines, Iowa City, Ames dan Cedar Rapid, kesemuanya di Negara Bagian Iowa, terdiri dari para pelajar, mahasiswa, profesional, dan keluarga diaspora.
Pertemuan ini menjadi ajang mendengarkan aspirasi, memperbarui informasi mengenai pelayanan konsuler, serta mempererat hubungan antara perwakilan RI dan masyarakat Indonesia di luar negeri.
Kunjungan ini tidak hanya menandai hubungan personal sang Duta Besar dengan almamater, tetapi juga membuka jalan bagi penguatan hubungan institusional antara Indonesia dan University of Iowa — khususnya dalam meningkatkan mobilitas akademik, kolaborasi riset, dan kesempatan pendidikan bagi generasi muda Indonesia.
***



