Startup menjadi kekuatan ekonomi dan membuka banyak lapangan kerja. Hal ini sudah dilakukan oleh negara-negara maju dengan menyokong startup, baik dari segi pendanaan riset dan sasaran pasar yang jelas.
Indonesiapun tidak ketinggalan mendorong berkembangnya industri startup lewat skema-skema pendanaan, dukungan riset dan berorientasi ke sektor global.
Startup di industri militer merupakan salah satu yang potensial untuk dikembangkan.
Demikian kesimpulan diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (30/4/2025).
Berbicara dalam diskusi yang mengangkat tema: The Iron Man Model: How Startups and The Military Can Work Together”, adalah Sekjen Indonesia Robotics Association, Ir. Alexander Ludi, dengan moderator Dr. Ir. Jarot S Suroso M.Eng. IPU. ASEAN Eng.
Alexander Ludi, yang alumnus ITS-Surabaya, menjelaskan bahwa saat ini ekosistem Artificial intelligence (AI) berkembang luar biasa dan ditangkap oleh startup sebagai bisnis awal yang menjanjikan.
Ekosistem AI ini masuk ke ranah manapun hingga ke militer dan berorientasi ke bisnis global. AI ini kemudian merambah ke berbagai inovasi-inovasi baru mulai dari teknologi drone, aplikasi drone, robot pengganti tentara, dan lainnya.
Untuk menciptakan ekosistem startup agar terus hidup, dibutuhkan model Iron Man. “Di Amerika Serikat, teknologi yang dikembangkan para startup ini tidak hanya menguasai teknologinya semata, tetapi juga kemampuan menguasai pasar global. Kemampuan deep dive ini mereka kuasai. Mereka benar-benar nyemplung di dalam,” kata Alexander Ludi.
Ditambahkan, Kementerian Pertahanan AS mengucurkan hingga US$ 3.8 milyar pertahunnya untuk mendukung industri startup membangun kekuatan industri pertahanan AS.
Di Indonesia, membangun industri startup masih belum menghasilkan produk industri yang menjanjikan. Alex memperlihatkan bahwa dari 50 ribu startup, hanya 350 startup yang mendapatkan pendanaan dari Pemerintah. Namun, hanya tiga startup yang berhasil jadi dan berkembang.
“Indonesia mempunyai potensi besar,” jelas Alxander.
SDM Indonesia menguasai teknologi tetapi belum menguasai bagaimana harus mengembangkan teknologi tadi agar terus bisa berlanjut dan menguasai pasar global. “Ini harus menjadi perhatian kita semua,” katanya.
Selain itu, startup militer saat ini sangat menjanjikan. Kehadiran teknologi robotic dengan dukungan Artifical Intelligence (AI), Internet of Things dan 3-D Printing memungkinkan startup mendukung industri-industri militer.
Untuk bidang bidang ini, sepertinya kemampuan ahli-ahli di dunia merata. Di sini mulai hadir teknologi drone militer dengan beragam aplikasinya, hingga tentara-tentara robot untuk mengurangi jumlah tentara dalam operasi militer. Ditambah lagi, beragam produk industri militer ini juga bisa dikonversi menjadi produk non-militer dengan standar standar non-militer.
Di Indonesia pun potensi untuk mengembangkan startup bisa dimulai oleh para enterprenur muda sejak seorang calon pengusaha itu duduk di bangku kuliah.
Titik tertinggi bagi seorang calon enterpreneur adalah saat ia bisa bertemu dengan para investor, supervisi dan ahli marketing untuk mengungkapkan gagasan, ide dan bagaimana ide-ide itu terus bisa dikembangkan secara berlanjut.
“Model Iron Man ini harus diperkuat. Indonesia dengan kekuatan 70 juta warga milenial, perlu didukung dengan hadirnya ekosistem yang mendorong mereka menjadi enterpreneur dengan memperbanyak inkubator, akselerator dan ruang untuk mereka bergerak,’” katanya.
Ia menambahkan bahwa pola birokrasi dengan startup di Indonesia up perlu disinkronkan karena birokrasi masih ketinggalan dan kuno. Produk industri yang dihasilkan, dengan dukungan industri-industri startup perlu didukung kebijakan birokrasi yang lebih cepat dan effisien.

Pada peresntasinya, Alex memperlihatkan sebuah kendaraan taktis karya ahli ahli Indonesia diberi nama Garuda Patriot dan kehadirannya dipasok oleh lebih 100 industri startup. Kendaraan taktis ini tangguh, namun untuk memasuki produksi massal maka harus memiliki sertifikat laik produksi versi militer dari Kementerian Pertahanan, serta laik produksi untuk versi non-militer dari Kementerian Perubungan.
Di sini, peran Pemerintah menjadi penting melalui program memperkuat sarana, prasarana dan SDM pengujiannya di kedua kementerian tadi, tentu dengan dana APBN. Sehingga industri produsen, yang didukung ratusan startup tadi bisa segera berinvestasi, siap memproduksi dan produknya masuk ke pasar dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) nya yang tinggi. Dengan cara seperti inilah maka industri dalam negeri akan tumbuh semakin kuat dan effisien. ***



