Infrastruktur pengendalian karhutla sudah dibangun di banyak wilayah: sekat kanal, pintu air, embung, pompa, menara pantau, hingga berbagai peralatan pendukung. Tetapi satu pertanyaan tetap penting: apakah semuanya benar-benar berfungsi ketika dibutuhkan?
Di Part 2 Forest Insight, pembahasan bergerak dari teknologi dan respons menuju persoalan yang lebih mendasar: bagaimana membangun sistem pencegahan karhutla yang bekerja di tingkat tapak dan lanskap.
Bersama Asep Karsidi dan Rafles Panjaitan, kita membahas pentingnya pemeliharaan dan uji fungsi infrastruktur, pengelolaan air di lahan gambut, koordinasi lintas wilayah, serta mengapa pendekatan pencegahan tidak bisa berhenti pada larangan membakar.
Masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem. Pencegahan perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi, menyediakan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, dukungan alat dan bibit, insentif, serta memastikan masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi ketika mereka tidak membakar.
Lalu, seperti apa sistem pencegahan yang ideal?
Salah satu jawabannya dirangkum dalam tiga kata: Predictive. Preventive. Adaptive.
Karena keberhasilan pencegahan karhutla bukan sekadar berapa banyak rapat, patroli, alat, atau infrastruktur yang tersedia. Ukurannya adalah apakah risiko menurun, api dapat dihentikan sejak awal, gambut tetap terjaga basah, dan masyarakat mendapatkan manfaat.
Saksikan Part 2 Forest Insight sampai akhir untuk melihat bagaimana perubahan dari rutinitas menuju sistem membutuhkan data, manusia, infrastruktur, masyarakat, dan koordinasi yang bekerja bersama.
🎙️ Host: Sugijanto
🎙️ Asep Karsidi — Pakar TMC & Dosen Geografi Universitas Indonesia
🎙️ Rafles Panjaitan — Pakar Kebakaran Hutan dan Lahan



