Riau dan Jambi Nihil Hotspot, Kalteng Catat 261 Titik

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah yang masih mencatat hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas. Di sisi lain, Riau dan Jambi kembali mencatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan terdapat 575 hotspot high confidence secara nasional hingga Kamis (24/9/2026) pukul 21.15 WIB. Angka tersebut meningkat 231 titik dibandingkan 344 hotspot pada sehari sebelumnya.

Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 261 hotspot, naik dari 156 titik. Kalimantan Barat memiliki 26 titik, turun dari 33 titik, sedangkan Sumatera Selatan meningkat dari 4 menjadi 25 titik. Kalimantan Selatan turun dari 11 menjadi 9 titik.

Sementara itu, Jambi tidak mencatat hotspot high confidence setelah sebelumnya terdapat dua titik. Riau juga tetap nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Secara kumulatif, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 321 hotspot, meningkat dari 206 titik pada hari sebelumnya. Kenaikan terutama terjadi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, sedangkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan mengalami penurunan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot yang terdeteksi satelit merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak secara otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu hotspot sehingga petugas tetap perlu melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi di lapangan.

Untuk memperkuat penanganan, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Sebanyak 17 unit menjalankan patroli dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sementara 44 unit lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.

Penggunaan armada udara disesuaikan dengan perkembangan titik api, potensi pembentukan awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, serta aspek keselamatan penerbangan. Pemerintah juga mempertahankan operasi darat untuk menangani titik api yang tidak dapat dijangkau secara optimal melalui operasi udara.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan dunia usaha melakukan patroli, verifikasi lapangan, pemadaman, penyekatan api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan.

Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama karena jumlah hotspot di provinsi tersebut masih paling tinggi dibandingkan lima provinsi prioritas lainnya. Penanganan juga mendapat perhatian khusus di kawasan gambut karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul ketika kondisi kembali kering.

Pengelolaan gambut menjadi bagian dari penguatan strategi pencegahan karhutla. Pada Kamis (24/9), Presiden Prabowo Subianto memimpin diskusi di Istana Merdeka bersama sejumlah akademisi mengenai pengelolaan gambut dan pencegahan kebakaran.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah memutuskan pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Pemerintah juga mendorong penguatan kembali peran Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa sebagai bagian dari pencegahan berbasis masyarakat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penguatan kelembagaan tersebut diarahkan untuk meningkatkan porsi pencegahan dengan menggabungkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan keterlibatan masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran.

Menurut dia, pendekatan tersebut melengkapi langkah pengendalian yang sudah berjalan, mulai dari deteksi dini dan patroli hingga pemadaman darat, operasi udara, OMC, serta penegakan hukum.

Dampak karhutla juga menjadi perhatian dalam perlindungan satwa liar. Kebakaran dapat menghilangkan tutupan habitat dan sumber pakan serta mendorong satwa keluar dari kawasan hutan menuju perkebunan maupun permukiman.

Kementerian Kehutanan meminta masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran tidak melakukan penyelamatan secara mandiri. Masyarakat diminta menjaga jarak, mencatat lokasi temuan jika kondisi memungkinkan, dan segera melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas terdekat agar penanganan dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi dan peralatan sesuai.

Sementara itu, kondisi kualitas udara masih berbeda antarwilayah. Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar daerah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah Sumatera dan terutama Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Di beberapa lokasi, kondisi bahkan masuk kategori berbahaya.

Pantauan BMKG Aviation pada Jumat (25/9) dini hari menunjukkan jarak pandang di Palangka Raya sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap, Pontianak sekitar 1,5 kilometer berasap, Palembang sekitar 5 kilometer berasap, dan Jambi sekitar 5 kilometer berasap. Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi berawan, sedangkan Banjarmasin sekitar 8 kilometer dalam kondisi cerah berawan.

Di wilayah Kalimantan Tengah lainnya, jarak pandang tercatat sekitar 800 meter di Buntok dan 1 kilometer di Muara Teweh dengan kondisi berasap. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan jumlah hotspot tidak selalu langsung mengubah kualitas udara karena asap yang sudah terbentuk dapat bertahan atau berpindah mengikuti angin dan kondisi atmosfer.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk memantau informasi kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Masyarakat dan pelaku usaha juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap temuan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang terdampak karhutla perlu segera dilaporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles