Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan tetap menjalankan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meski jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence turun tajam dalam pemantauan terbaru.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 213 hotspot high confidence secara nasional hingga Jumat (25/9/2026) pukul 21.10 WIB. Jumlah tersebut berkurang 362 titik dibandingkan 575 hotspot pada sehari sebelumnya.
Penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Tengah. Jumlah hotspot di provinsi tersebut turun dari 261 menjadi 57 titik. Sumatera Selatan juga turun dari 25 menjadi 17 titik, Kalimantan Barat dari 26 menjadi 14 titik, dan Kalimantan Selatan dari 9 menjadi 6 titik.
Jambi yang sehari sebelumnya nihil hotspot kini mencatat satu titik. Sementara Riau kembali mempertahankan kondisi nihil dengan tidak terdeteksi hotspot high confidence.
Perubahan tersebut menunjukkan penurunan hotspot di sebagian besar wilayah prioritas. Namun, Kementerian Kehutanan tetap mempertahankan kewaspadaan karena perkembangan karhutla dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, kelembapan lahan, arah angin, serta ketersediaan bahan bakar di permukaan dan kawasan gambut.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan jumlah kejadian kebakaran atau luas area yang terbakar karena satu kejadian dapat menghasilkan beberapa hotspot.
Karena itu, petugas tetap melakukan groundcheck untuk memastikan keberadaan dan kondisi aktual titik yang terdeteksi. Verifikasi lapangan menjadi bagian penting sebelum menentukan langkah penanganan.
Pemerintah juga tetap mengoperasikan armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Sebanyak 61 unit disiagakan, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Dari jumlah tersebut, 55 unit mendukung penanganan di enam provinsi prioritas, sedangkan enam unit water bombing lainnya diarahkan untuk membantu wilayah terdampak di luar enam provinsi tersebut.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait. Tim melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Pengendalian di kawasan gambut tetap mendapat perhatian khusus. Api dapat bertahan sebagai bara di bawah permukaan meskipun nyala api di atas tanah sudah tidak terlihat. Petugas karena itu terus melakukan pembasahan dan pendinginan hingga kondisi kawasan dinilai aman.
Di sisi lain, kualitas udara belum sepenuhnya mengikuti penurunan jumlah hotspot. Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera masih mencatat kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Asap yang sudah terbentuk dapat bertahan di atmosfer dan berpindah mengikuti arah angin serta kondisi atmosfer. Pada kebakaran gambut, produksi asap juga dapat berlangsung lebih lama sehingga penurunan hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kualitas udara.
Kementerian Kehutanan juga mempertahankan upaya perlindungan satwa liar di wilayah rawan karhutla. Kebakaran dapat merusak habitat, mengurangi sumber pakan, memutus ruang jelajah, dan mendorong satwa keluar dari kawasan hutan menuju perkebunan atau permukiman.
Melalui Balai KSDA dan mitra konservasi, tim penyelamatan satwa tetap disiagakan untuk merespons satwa yang terluka, terjebak, kehilangan habitat, atau membutuhkan evakuasi akibat kebakaran.
Masyarakat yang menemukan orangutan maupun satwa liar lainnya di sekitar kawasan terbakar diminta tidak melakukan evakuasi sendiri. Masyarakat dapat menjaga jarak, mencatat lokasi jika situasi memungkinkan, dan melaporkan temuan kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan menggunakan api. Penurunan hotspot perlu diikuti kewaspadaan dan pencegahan agar jumlah titik tidak kembali meningkat ketika kondisi menjadi lebih kering.
***



