Senin, 15 Juli 2024

Pengusaha Hutan Lirik Pengembangan Stevia, Pengganti Gula Tebu yang Lebih Sehat

Latest

- Advertisement -spot_img

Pelaku usaha kehutanan melirik potensi tanaman stevia untuk dikembangkan dengan model bisnis multi usaha kehutanan pola agroforestry di konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Stevia bisa dimanfaatkan sebagai bahan pemanis yang lebih sehat karena alami, tanpa kalori dan memiliki nol indeks glikemik sehingga bisa menggantikan gula tebu.

Pertumbuhan pasar stevia secara internasional juga manis karena semakin tinginya tren gaya hidup sehat. Tahun 2021 lalu pasar stevia mencapai 675,22 juta dolar AS secara internasional. Dengan pertumbuhan rerata sekitar 10% per tahun, pasar stevia diproyeksikan akan mencapai 1,1 miliar dolar AS di tahun 2026.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo menjelaskan tanaman stevia potensial untuk dikembangkan di PBPH dengan model bisnis multi usaha kehutanan.

“Dengan multi usaha kehutanan PBPH bisa mengembangkan tanaman apapun asal sesuai dengan kaidah pengelolaan hutan lestari,” katanya saat diskusi terfokus tentang pengembangan Stevia, Kamis, 16 Juni 2022.

Indroyono mengatakan pemegang PBPH punya aset besar berupa lahan yang sudah seharusnya bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan konsesi PBPH secara optimal diharapkan bisa meningkatkan nilai lahan hutan, mencegah deforestasi dan mendukung tercapainya komitmen Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

“Luas seluruh areal PBPH sekitar 30 juta hektare, ini harus kita manfaatkan secara optimal,” kata Indroyono.

Peneliti stevia dari Kementerian Pertanian, Sumaryono menjelaskan stevia mengandung senyawa kimia organik Glikosida Steviol terutama pada daunnya yang bisa dijadikan gula.

“Kelebihan gula stevia adalah rasanya yang sangat manis, 200 kali lipat jika dibandingkan gula tebu,” katanya.

Stevia bisa tumbuh di daerah dengan iklim tropis hingga subtropis. Stevia dipanen dari daun dan tunas mudanya setiap 1-2 bulan. Umur tanaman stevia berkisar 2-3 tahun. Namun jika agroklimatnya cocok bisa mencapai 4 tahun.

Untuk mendapat bibit stevia cukup mudah. Stevia bisa diperbanyak melalui biji, stek batang atau kultur jaringan. Perbanyakan stevia melalui stek batang relatif murah dan mudah, sementara dengan menggunakan kultur jaringan akan lebih cepat, massal dan sesuai dengan induknya.

Sumaryono menjelaskan Glikosida Steviol pada stevia mengandung beberapa beberapa komponen. Dua komponen utama adalah steviosida (C18H60O18) dan Rebaudiosida A atau biasa disingkat Reb A (C44H70O23).

“Kandungan steviosida yang tinggi bisa membuat gula stevia menyebabkan rasa langu. Sementara kalau kandungan Reb A-nya yang tinggi tidak langu. Makanya pengembangan klon tanaman stevia diarahkan untuk memperoleh tanaman dengan kandungan Reb A yang tinggi,” katanya.

Salah satu PBPH yang sudah mulai tergiur untuk mengembangkan stevia adalah PT Multistrada Agro International. “Kami telah melakukan uji coba di lahan seluas 2 hektare di Sukabumi sejak tahun 2016,” kata Managing Director PT Multistrada Agro International Kartika D Antono.

Kartika mengatakan pengembangan stevia dalam skala yang lebih luas akan dilakukan di konsesi PBPH yang berada di Sulawesi Tengah. “Setelah RKU Multi Usaha selesai dengan pola agroforestry,” katanya.

Multistrada berencana untuk menanam stevia seluas 5.000 hektare di konsesi tersebut. Jika terealisasi, produksi stevia dari lahan tersebut bisa mengganti 1/3 dari impor gula tebu Indonesia saat ini yang mencapai 4 juta ton per tahun.

Multistrada sudah melakukan hitung-hitungan yang manis secara bisnis. Berdasarkan proyeksi dibutuhkan ongkos tanam sebesar Rp53 juta per hektare dengan umur produksi 2-3 tahun. Selain itu dibutuhkan perawatan berupa pestisida organik mengingat yang dimanfaatkan pada stevia adalah daunnya. Daun stevia yang dipanen lalu dikeringkan dan bisa dipasarkan.

Menurut Kartika, pendapatan kotor yang bisa diperoleh dari budidaya stevia bisa mencapai 5.000 dolar AS per tahun. “Nilainya akan lebih tinggi kalau sudah berupa produk jadi,” katanya. ***

More Articles