Kamis, 22 Januari 2026

Napak Tilas Perjuangan Alumni Akademi Militer Yogyakarta dan Pelestarian Sejarah

Latest

- Advertisement -spot_img

Panser intai Ford Lynk legendaris yang sudah direstorasi, seolah menjadi saksi bisu di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Bandung, membawa siapapun yang melihatnya untuk kembali ke masa lalu.

Minggu, 10 Agustus 2025, panser tadi dan ambulans tua yang pernah digunakan dalam penumpasan pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo, menyambut kedatangan warga Ikatan Keluarga Akademi Militer (IKAM) Yogya di Bumi Siliwangi. Mereka tengah menapak tilas sejarah dan berupaya merevitalisasi monumen-monumen perjuangan.

Menurut Ketua IKAM-Yogya, Laksmi Sayidiman Suryohadiprojo, silaturahmi IKAM dan napak tilas jejak IKAM Yogya bersama Siliwangi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap para pejuang kemerdekaan.

“Semoga acara ini bisa meningkatkan kesadaran dan apresiasi kita terhadap para pejuang dan kemerdekaan Indonesia,” ujar Ibu Ami. “Dan semoga kita bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kita,” lanjutnya.

Di Museum Mandala Wangsit Siliwangi ini telah terabadikan satu ruangan yang khusus didedikasikan pada sejarah perjuangan para Taruna dan Perwira Remaja Akademi Militer Yogya bersama Divisi Siliwangi, serta foto foto dan dokumen pengabdian para alumni berjuang bersama Pasukan Siliwangi di berbagai Palagan, dari Perang Kemerdekaan I (1946), hingga Penumpasan Pemberontakan PKI-Madiun (1948), Long March Siliwangi (1948), Operasi Penumpasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) (1950), Operasi Penumpasan Gerombolan Kahar Muzakar, Penumpasan Gerombolan Republik Maluku Selatan, Operasi Penumpasan Gerombolan DI/TII Kartosuwiryo serta Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat, Operasi Dwikora dan penugasan sebagai Kontingen Garuda Pasukan Penjaga Perdamaian PBB.

Dalam acara tadi, dibahas pula kondisi monumen-monumen perjuangan para alumni Akademi Militer Yogya yang perlu direnovasi dan dilestarikan. Pembina IKAM-Yogya, Indroyono Soesilo, yang merupakan putera Jenderal (Purn) Soesilo Soedarman (Alumnus MA Yogya Angkatan 1), mengungkapkan kekhawatirannya akan sejarah yang bisa hilang jika tidak dilestarikan.

“Sebagai contoh, Monumen Pertempuran Pracimantoro di Desa Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah saat ini perlu direnovasi. Bahkan tulisan narasi pada monumen tadi sudah tidak terbaca,” kata Indroyono. “Padahal ditempat itulah pada 4 Oktober 1948, terjadi pertempuran hebat antara Satuan Taruna Akademi Militer Yogya dengan Pasukan Merah yang Komunis, mengakibatkan gugurnya Vaandrig Cadet Hardo Sumeru dan Vaandrig Cadet Anto Soegijarto, serta luka parah Vaandrig Cadet Harsojo”.

Monumen Pracimantoro di Wonogiri, Jawa Tengah, adalah saksi bisu perjuangan para taruna Akademi Militer (MA) Yogyakarta saat menghadapi Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Dalam pertempuran ini, Pasukan Siliwangi dan tiga kompi Taruna MA Yogyakarta bahu membahu merebut kembali Madiun. Keberanian para taruna muda ini dihargai dengan penganugerahan satya lencana Gerakan Operasi Militer-I (GOM-1), sebuah pengakuan yang luar biasa bagi mereka yang masih berpangkat taruna.

Dalam pertemuan tersebut, IKAM Yogya merumuskan beberapa program untuk memastikan jejak sejarah para pahlawan tetap abadi. Program-program tersebut antara lain:

  1. Revitalisasi Monumen Pracimantoro: Direncanakan, nama-nama para taruna yang ikut dalam operasi militer tadi akan diukir di atas marmer agar tidak lekang dimakan waktu.
  2. Monumen Kadet Soewoko, di Lamongan, Jawa Timur: disini akan diabadikan nama-nama taruna MA Yogya yang berjuang di Jawa Timur, direncanakan akan diabadikan di pelataran Monumen Kadet Soewoko. Sebagai informasi, Kadet Soewoko, taruna MA-Yogya angkatan kedua, bersama tiga gerilyawan lainnya, gugur dalam pertempuran heroik melawan tentara Belanda, 4 Maret 1949. Selama Perang Kemerdekaan II (1948-1949) telah gugur di Jawa Timur 10 Taruna dan Perwira Remaja Akademi Militer Yogya.
  3. Pengabadikan nama 26 Perwira Remaja MA-Yogya Angkatan I di Ruang Memorabilia Museum Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Koto Tinggi, Sumatera Barat. Rencana ini telah disetujui oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pada Perang Kemerdekaan II, 26 Perwira Remaja MA-Yogya bertempur di wilayah Sumatera, dari Jambi hingga Aceh. Mereka disebar di Sumatera untuk membentuk kantong kantong gerilya.

Apresiasi IKAM Yogya kepada Museum Mandala Wangsit

Dalam kesempatan tersebut, IKAM-Yogya turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang telah menyediakan tempat untuk mengabadikan sejarah para orang tua mereka.

“Di museum inilah, kisah-kisah perjuangan para Taruna Akademi Militer Yogyakarta, bersama Divisi Siliwangi, disimpan, diceritakan kembali dan dilestarikan” papar Indroyono, yang segera ditugaskan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menjabat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat berkedudukan di Washington DC. ***

- Advertisement -spot_img

More Articles