Rabu, 17 Desember 2025

Kunjungi Pabrik Boeing, Dubes RI Dorong Produksi Komponen Pesawat Di Indonesia dan Kerja Sama Teknologi Penerbangan

Latest

- Advertisement -spot_img

KBRI Washington, D.C. melakukan kunjungan kerja ke fasilitas Boeing di Renton, Seattle. Dalam kunjungan tersebut, Duta Besar Republik Indonesia di Washington, D.C., Indroyono Soesilo, bertemu dan berdialog dengan jajaran pimpinan Boeing dan para profesional diaspora Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut, serta melakukan site visit ke fasilitas manufaktur Boeing B737 Max.

Kegiatan ini berfokus pada penguatan peluang kerja sama antara Indonesia dan Boeing di berbagai sektor industri penerbangan, serta memperluas jejaring dengan diaspora Indonesia di Boeing.

Boeing merupakan salah satu produsen pesawat terbesar di dunia yang berasal dari Amerika Serikat, dan telah menjalin hubungan sejarah panjang dengan Indonesia. Kerja sama Boeing – Indonesia dimulai tahun 1949, ketika Garuda Indonesia mulai beroperasi dengan pesawat Douglas DC-3.

Pesawat Douglas DC-3 pertama Indonesia – RI-001 Seulawah – dibeli melalui sumbangan rakyat Aceh pada 1948. Sejak itu, selama 76 tahun, Boeing dan Indonesia terus bermitra dalam mendukung pengembangan sektor penerbangan.

Dalam pertemuan dengan Dubes Indroyono, Boeing menegaskan bahwa Indonesia yang memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar dalam sektor penerbangan. Sebagai negara kepulauan, transportasi udara merupakan kunci untuk menghubungkan ribuan pulau dari Sabang hingga Merauke, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar paling strategis di kawasan.

Boeing juga menyoroti pentingnya percepatan program peremajaan armada nasional. Saat ini Indonesia tercatat memiliki jumlah pesawat terbesar di kawasan Asia Tenggara, namun sekaligus mengoperasikan armada dengan usia rata-rata tertua di wilayah tersebut.

Boeing menginformasikan bahwa terdapat 474 pesawat Boeing yang beroperasi di Indonesia, namun hanya sekitar 7 persen yang termasuk kategori new generation. Dengan tingginya pertumbuhan mobilitas udara, Asia Tenggara – termasuk Indonesia – menjadi salah satu pasar penerbangan terbesar dan paling dinamis di dunia.

Dubes Indroyono menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama dengan AS untuk meningkatkan konektivitas udara Indonesia. Beliau menyampaikan harapan agar lebih banyak komponen pesawat Boeing dapat diproduksi di Indonesia, sejalan dengan kebijakan hilirisasi Presiden Prabowo.

“Pemerintah siap mendukung peningkatan peran Indonesia dalam rantai pasok produksi pesawat Boeing”, ujar Dubes Indrayono. Boeing menyambut baik hal ini dan menyampaikan bahwa beberapa perusahaan Indonesia telah masuk kategori Tier-One Supplier.

Kunjungan tersebut juga membahas peluang pengembangan teknologi penerbangan, termasuk peningkatan kapasitas SDM, penguatan riset, SDM, dan kerja sama pengembangan sustainable aviation fuel (biofuel / SAF). Boeing dan pemangku kepentingan di Indonesia dinilai memiliki ruang besar untuk memperluas kerja sama strategis di bidang ini.

Dubes Indroyono turut berdialog dengan para profesional diaspora Indonesia yang tergabung dalam Boeing Indonesian Association (BIA). Pihak Boeing menyampaikan apresiasi atas kontribusi para engineer Indonesia yang dinilai memiliki kompetensi kuat di berbagai lini pengembangan pesawat. Keterlibatan diaspora dalam berbagai program berbagi pengetahuan dinilai menjadi nilai tambah bagi pengembangan ekosistem penerbangan Indonesia.

Kunjungan ditutup dengan peninjauan fasilitas produksi B737 Max. Boeing menjelaskan bahwa tingginya permintaan global membuat waktu tunggu pesanan mencapai 5–6 tahun, dengan kapasitas produksi sekitar 42 unit per bulan.

Rangkaian pertemuan tersebut sekaligus memperkuat komitmen kedua pihak untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan memperdalam hubungan strategis Indonesia – Boeing di sektor penerbangan.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles