Kamis, 1 Januari 2026

Kontribusi Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia di Batu Busuk Sumatera Barat

Latest

- Advertisement -spot_img

Banjir dan longsor yang melanda Kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang meninggalkan dampak yang luas bagi kehidupan warga. Aktivitas ekonomi terhambat, jalan terputus, banyak rumah warga yang rusak berat bahkan sampai hilang dan harus mengungsi. Dalam kondisi tersebut, proses pemulihan membutuhkan dukungan nyata dari berbagai pihak.

Melalui Program Tanggap Bencana Sektor Kehutanan, Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) kembali hadir mendampingi masyarakat. Penyaluran bantuan di Kawasan Batu Busuk ini merupakan bantuan kedua FKMPI di kota Padang pada Selasa (30/12/2025), setelah sebelumnya bantuan tahap pertama disalurkan kepada masyarakat terdampak di Desa Lubuk Tempurung di Kota Padang pada hari yang sama. Kehadiran berkelanjutan ini menegaskan komitmen sektor kehutanan untuk tidak berhenti pada satu lokasi bencana saja. Paket bantuan sebelumnya telah disalurkan di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Kegiatan penyaluran bantuan dilaksanakan oleh FKMPI, forum kolaboratif yang beranggotakan APHI, APKI, APKINDO, ISWA, ASMINDO, ILWA, dan HIMKI. Mewakili FKMPI, bantuan diserahkan oleh Ketua Umum APHI Soewarso dan diterima langsung oleh Anwar Zaid, Ketua RW 03 Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang dengan melibatkan pengurus Komisariat Daerah (KOMDA) APHI Riau yang wilayah kerjanya mencakup Sumatera Barat. Penyerahan bantuan program Tanggap Bencana ini didampingi Sekretaris FKMPI Tjipta Purwita, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto, Ketua Komite Humas dan Kerjasama APHI Sugijanto dan Sekretaris Komisariat Daerah (KOMDA) APHI Riau Suyatno beserta jajaran KOMDA Riau.

Bantuan yang disalurkan masih sama yaitu kasur Palembang, kompor beserta tabung gas, perlengkapan dan peralatan dapur, dan paket sembako. Seluruh bantuan disiapkan berdasarkan hasil koordinasi dengan pengurus daerah dan mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat pascabanjir, khususnya bagi kelompok terdampak.

Penyaluran bantuan kedua ini melengkapi respons awal yang sebelumnya telah dilakukan oleh sejumlah anggota APHI di wilayah Sumatra, berupa penyaluran sembako dan pengerahan alat-alat berat untuk membantu membuka akses, pembersihan material longsor, serta mendukung penanganan darurat di sejumlah titik terdampak.

Ketua Umum APHI Soewarso menilai bahwa kehadiran sektor kehutanan di Batu Busuk bukan sekadar agenda bantuan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang terhadap masyarakat. “Kami memandang desa sebagai komunitas yang perlu diperhatikan. Bantuan ini kami harapkan menjadi pijakan awal agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas hariannya,” ujarnya.

Menurut Soewarso, tanggung jawab sosial sektor kehutanan melekat pada pengelolaan sumber daya alam. Kehadiran di tengah masyarakat pascabencana, katanya, merupakan wujud bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan harus berjalan seiring dengan keberpihakan pada masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan.

Pada kesempatan itu, Tjipta Purwita, Sekretaris FKMPI , menyatakan, FKMPI sebagai wadah komunikasi hulu hilir kehutanan, mendorong program tanggap bencana bersinergi dengan program pemerintah.”Melalui FKMPI, penanganan tanggap bencana dilakukan dengan pelibatan hulu hilir secara efektif,” kata Tjipta.

Sementara itu, Anwar Zaid, Ketua RW 03 Batu Busuk menyambut baik dan menyampaikan terima kasih atas nama masyarakat Batu Busuk.

“Atas nama masyarakat Batu Busuk, kami menyampaikan ribuan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh donator Forum Komunikasi Masyaratan Perhutanan Indonesia, semoga bantuan ini berkah bagi masyarakat Batu Busuk, dan kami atas nama masyarakat mendoakan Bapak dan Ibu dari FKMPI diberikan kesehatan dan umur Panjang dari Allah SWT” ungkap Anwar.

Masyarakat di RW 03 Batu Busuk lebih dari 300 KK yang terdampak rumahnya hanyut sekitar 72 rumah. Masyarakat ada yang mengungsi ke rumah saudara namun masih ada yang bertahan. Ia berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut dan dukungan lintas sektor menjadi faktor penting agar proses pemulihan tidak berjalan sendiri, tetapi mendapat dukungan berbagai pihak.

Sekretaris KOMDA APHI Riau Suyatno, menegaskan bahwa distribusi di tingkat daerah menjadi kunci keberhasilan program. “Setiap lokasi terdampak memiliki kebutuhan yang berbeda. Tugas kami berkomunikasi dengan pengurus pusat agar paket bantuan yang disalurkan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peran pengurus daerah penting untuk menjembatani kebijakan dan komitmen di tingkat pusat dengan realitas yang dihadapi masyarakat di desa-desa terdampak bencana.

Program ini juga melibatkan organisasi mahasiswa kehutanan, yaitu Sylva Indonesia dan International Forestry Student Association (IFSA) cabang Indonesia, yang menurunkan relawan mahasiswa untuk membantu distribusi bantuan di lapangan. Keterlibatan mahasiswa dipandang sebagai bagian dari pengabdian sekaligus pembelajaran langsung tentang dimensi sosial dan kemanusiaan dalam sektor kehutanan.

Mewakili mahasiswa kehutanan, Randi Wansyah Putra dari Sylva Indonesia dan Muhammad Fawzaan dari IFSA Indonesia, menyatakan dukungan mahasiswa kehutanan untuk aksi tanggap bencana yang diselenggarakan FKMPI. “Pelibatan mahasiswa akan memperkuat kebersamaan stakeholder kehutanan untuk peduli pada bencana banjir di Sumatera,” kata Randi.

Melalui rangkaian kegiatan ini, FKMPI menegaskan bahwa Program Tanggap Bencana Sektor Kehutanan dijalankan secara bertahap. Bantuan kedua di Desa Batu Busuk diharapkan memperkuat ketahanan sosial masyarakat sekaligus membangun kemitraan jangka panjang antara sektor kehutanan, pemerintah desa, pengurus daerah, dan generasi muda dalam menghadapi bencana di masa mendatang.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles