Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH) mengeluarkan imbauan nasional untuk melaksanakan Hari Raya Idul Adha tanpa sampah plastik.
Imbauan tersebut disampaikan melalui Surat Edaran resmi yang mengajak masyarakat mengganti kantong plastik sekali pakai dengan wadah ramah lingkungan seperti besek bambu atau daun pisang saat membagikan daging kurban.
Kampanye ini merupakan bagian dari gerakan global #BeatPlasticPollution dan selaras dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini: “Hentikan Polusi Plastik”, yang diadaptasi dari tema internasional “Ending Plastic Pollution”.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa peringatan ini bukan hanya simbolis, melainkan bagian dari komitmen nasional untuk mengatasi krisis lingkungan yang makin meluas.
“Kampanye ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan komitmen nasional yang selaras dengan upaya global untuk menyelamatkan bumi dari ancaman limbah plastik,” ujar Menteri Hanif dalam siaran resmi, Jumat (30/5/2025).
Menurut data KemenLH tahun 2023, Indonesia menghasilkan sekitar 56,6 juta ton sampah, di mana 18 persen di antaranya atau sekitar 10 juta ton merupakan sampah plastik.
Namun, hanya sekitar 39 persen dari total sampah tersebut yang berhasil dikelola secara layak.
Kondisi ini menandakan darurat lingkungan yang membutuhkan penanganan sistematis dan menyeluruh.
Untuk itu, KemenLH telah menetapkan berbagai langkah strategis, antara lain:
- Larangan impor scrap plastik,
- Penguatan sistem daur ulang berbasis masyarakat (Bank Sampah dan TPS 3R),
- Pengembangan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel),
- Penegakan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas limbah produknya.
“Prinsip ‘polluter pays’ harus jadi pegangan utama. Produsen tidak boleh lepas tangan terhadap limbah yang mereka hasilkan,” tegas Menteri Hanif.
Sebagai bagian dari kampanye HLH 2025, KemenLH akan menggelar serangkaian kegiatan pada 22–24 Juni di Jakarta. Acara ini akan mencakup:
- Pameran teknologi ramah lingkungan,
- Seminar tematik,
- Rapat kerja nasional (Rakernas) persampahan,
- Pertunjukan seni dan lomba edukatif,
- Partisipasi publik lintas sektor.
“Ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi panggilan untuk menyelamatkan masa depan,” ujar Hanif.
HLH 2025 diharapkan menjadi momentum kolektif untuk memperkuat transformasi budaya hidup berkelanjutan.
“Kini saatnya bergerak bersama – bukan hanya demi generasi hari ini, tapi demi bumi esok yang masih layak dihuni,” pungkasnya. ***



