Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyerukan aksi nyata penyelamatan danau dalam peringatan Hari Danau Sedunia di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Ia menekankan bahwa gerakan ini tidak hanya untuk 15 danau prioritas, tetapi juga bagi seluruh danau besar di Indonesia.
“Peringatan Hari Danau Dunia jangan sekadar seremoni, tetapi harus menjadi gerakan bersama untuk menyelamatkan danau,” ujar Hanif di hadapan peserta rapat koordinasi nasional penyelamatan danau Indonesia.
Hanif menyoroti adanya kesenjangan antara data administratif dan kondisi lapangan yang menunjukkan kerusakan serius pada sejumlah danau prioritas.
Ia mencontohkan Danau Mahakam Cascade di Kalimantan Timur, tempat habitat pesut terganggu lalu lintas tongkang. Meski demikian, inisiatif masyarakat dan pemuda setempat memberi harapan baru bagi penyelamatan ekosistem danau tersebut.
Hari Danau Sedunia pertama kali digagas Indonesia pada World Water Forum ke-10 di Bali (2024) dan telah diadopsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Momentum ini diperkuat dengan Resolusi UNEA-6/14 tentang Sustainable Lake Management serta Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 mengenai penyelamatan 15 danau prioritas.
Strategi nasional penyelamatan danau dirancang berbasis data ilmiah. Langkah-langkah yang dijalankan mencakup pengendalian keramba jaring apung, penegakan hukum terhadap pencemaran, penerapan ekohidrologi, serta pembiayaan hijau melalui APBN, BPDLH, dan skema carbon offset. Publik juga dilibatkan melalui Gerakan Bersihkan Danau dan program Adopsi Danau.
Di tingkat internasional, Indonesia mengusulkan pembentukan Pusat Koordinasi Regional Pengelolaan Danau Berkelanjutan di Asia-Pasifik. Usulan ini akan dibahas lebih lanjut pada World Lake Conference ke-20 di Brisbane.
Hanif menegaskan bahwa momentum Hari Danau Sedunia harus menjadi pengingat pentingnya danau sebagai jantung ekosistem.
“Danau adalah sumber kehidupan. Tugas kita memastikan kelestariannya agar manfaatnya berlanjut hingga generasi mendatang,” tegasnya.
***



