Perkembangan teknologi Unmanned Aircraft System (UAS), atau Pesawat Tanpa Awak, berjalan jauh lebih cepat dari pada kesiapan banyak negara dalam menyesuaikan regulasinya. Oleh sebab itu, dialog internasional menjadi sangat penting untuk memastikan inovasi drone dapat diintegrasikan dengan aman, efisien, dan serasi dalam sistem penerbangan sipil global.
Demikian disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, saat membuka Aviation Assembly, sebuah forum yang mempertemukan para Transportation Attaché dari berbagai perwakilan diplomatik asing di Amerika Serikat, bertempat di KBRI Washington DC, 1 Desember 2025 lalu.
Forum menghadirkan Kate Fraser, Director of Regulatory and Federal Affairs dari Zipline Corp., salah satu Autonomous Drone Delivery Network terbesar di dunia, dengan operasi di Rwanda, Ghana, Pantai Gading, Jepang, Nigeria, Kenya, serta di beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Arkansas dan Texas. Ia memberikan gambaran menyeluruh tentang perkembangan ekosistem drone di Amerika Serikat dan peran Zipline sebagai pelopor global.
Ia menjelaskan dengan network dan cakupan operasional Zipline di berbagai wilayah, Zipline memanfaatkan drone otonom untuk pengiriman kebutuhan medis, barang ritel, dan layanan publik di berbagai kawasan, termasuk wilayah yang sulit dijangkau.
Dengan tinggi terbang hanya 100 – 200 kaki dan radius jangkauan hingga 10 mil, drone Ziline memiliki potensi besar untuk diterapkan Indonesia—mulai dari mempercepat distribusi barang penting hingga meningkatkan konektivitas wilayah terpencil dan mendukung transportasi rendah emisi.
Dalam diskusi, disoroti pentingnya harmonisasi regulasi internasional, termasuk pedoman International Civil Aviation Organization, yang menjadi rujukan bagi negara-negara dalam membangun kebijakan nasional terkait teknologi UAS.
Para transportation attaché sepakat bahwa koordinasi global dan pertukaran informasi regulasi menjadi kunci untuk menjaga keselamatan, mendorong inovasi, dan memastikan kesiapan sektor penerbangan menghadapi perubahan teknologi.
Aviation Assembly mengapresiasi kehadiran forum dan menilai forum ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat komunikasi antar diplomat sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di bidang aviasi. Pertemuan menegaskan komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam membentuk arah masa depan teknologi penerbangan global.



