Jumat, 2 Januari 2026

IFSS 2025 Indonesia Satukan 21 Negara Bahas Masa Depan Kehutanan Global

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan bersama panitia International Forestry Students’ Symposium (IFSS) 2025 menggelar National Forestry Symposium bertema “Green Heroes: Achieving Net Zero Emission for Sustainable Forestry” di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa (19/8/2025).

Acara ini menghadirkan lebih dari 300 peserta dari 21 negara, termasuk perwakilan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan mahasiswa kehutanan global.

Simposium ini menjadi puncak dari rangkaian IFSS 2025 Indonesia yang berlangsung selama 14 hari dengan kunjungan lapangan ke Bogor, Yogyakarta, Makassar, Maros, dan Takalar.

Forum ini membahas berbagai isu strategis melalui plenary session, presentasi abstrak, serta diskusi tematik yang menyoroti tiga fokus utama: forest multibusiness, social forestry, dan technology for conservation.

Simposium diharapkan dapat menghasilkan gagasan konkret untuk mendukung pengelolaan hutan lestari dan pencapaian target FoLU Net Sink 2030 Indonesia.

Direktur IFSS 2025, Lutfiyyah Roihanah, dalam sambutan pembukaan menekankan pentingnya forum ini sebagai ruang belajar lintas negara.

“Symposium ini mempertemukan calon profesional kehutanan dari berbagai negara untuk mendiskusikan bagaimana merancang pengelolaan hutan yang memiliki dampak maksimal,” ujarnya.

Pandangan tersebut kemudian diperkuat dengan perspektif pemerintah Indonesia yang menegaskan peran strategis generasi muda dalam menjawab tantangan lingkungan global.

Melalui keynote speech, Kementerian Kehutanan menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa dan profesional muda tidak hanya penting dalam membangun jejaring lintas negara, tetapi juga menjadi kunci untuk mendorong inovasi, mempercepat aksi iklim, dan mengintegrasikan kehutanan berkelanjutan dalam kebijakan nasional maupun global.

Staf Ahli Bidang Revitalisasi Industri Kehutanan Kementerian Kehutanan RI, Novia Widyaningtyas menyoroti peran generasi muda dalam mengatasi krisis lingkungan global.

“Kehadiran lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan kepedulian dan kesiapan generasi muda untuk menjadi katalis perubahan. Mereka diharapkan aktif berkontribusi, baik dalam inisiatif lokal maupun kebijakan global,” kata Novia.

Novia juga menegaskan komitmen Indonesia terhadap target iklim. “Indonesia bertekad mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Kami memperkuat perhutanan sosial, rehabilitasi mangrove, dan multiusaha kehutanan. Semua ini dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat, dan tentu saja generasi muda,” tambahnya.

Acara ini ditutup dengan sesi diskusi tematik mengenai perhutanan sosial dan teknologi kehutanan, yang melibatkan peserta dari 21 negara. ***

- Advertisement -spot_img

More Articles