Kamis, 1 Januari 2026

Hari Bela Negara 2025: Komitmen Menjaga Keutuhan Bangsa

Latest

- Advertisement -spot_img

Ketika Belanda melancarkan Aksi Militer II, menyerbu Ibukota Yogyakarta, pada 19 Desember 1948, dan para pimpinan Nasional ditangkap serta diasingkan, rakyat Indonesia tidak menyerah. Panglima Besar Jenderal Soedirman bergerak keluar kota Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya, sedang di Bukittinggi, Sumatera Barat, dibentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), dipimpin Syafrudin Prawiranegara.  

Kesemuanya ini mencerminkan bahwa Republik Indonesia masih ada dan terus berjuang.  Peristiwa 77 tahun lalu itu diperingati sebagai Hari Bela Negara 2025 di seluruh tanah air dan di perwakilan perwakilan RI di luar negeri. Di KBRI Washington DC, AS, Hari Bela Negara 2025  diperingati dalam suatu Upacara yang diikuti  para diplomat dan pegawai setempat, dipimpin Duta Besar RI, Indroyono Soesilo.

Upacara  yang berlangsung pada Jumat, 19 Desember 2025 ini, diisi dengan pembacaan ikrar, mengheningkan cipta untuk mengenang arwah para pahlawan serta pembacaan Amanat Tertulis Presiden RI, Prabowo Subianto.

Dalam amanatnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa peringatan Hari Bela Negara ini meneguhkan komitmen kita menjaga keutuhan bangsa. Ketika Agresi Militer II Belanda mengancam keberlangsungan Republik, maka rakyat bangkit dan bergerak dalam semangat bela Negara guna menjaga Indonesia tetap berdiri.  

Presiden juga menyatakan bahwa Hari Bela Negara tahun ini yang mengambil tema:”Teguhkan Bela Negara Untuk Indonesia Maju”, telah mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai apabila seluruh rakyat memiliki kesiapsiagaan, disiplin dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan jaman.

Saat ini, tantangan dan ancaman terhadap Negara tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berbentuk perang siber, gerakan radikalisme, hingga ancaman bencana alam. Dalam situasi seperti ini, semangat bela Negara harus menjadi kekuatan kolektif seluruh warga Indonesia.

Presiden juga mengingatkan bahwa pada Hari Bela Negara ke-77 ini, saudara saudara kita di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tengah diuji oleh bencana alam.  Adalah panggilan bagi kita semua untuk hadir dan membantu mereka.    

Duta Besar Indroyono Soesilo menyampaikan kilas-balik sejarah pada Minggu pagi 19 Desember 1948, saat pasukan payung Belanda diterjunkan dari pangkalan udara Bandung dan Semarang, menyerbu dan menguasai Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta. Ibukota RI perjuangan ini jatuh ketangan musuh, Belanda mengingkari kesepakatan Perjanjian Renville 1948.  

Pemerintah membentuk PDRI di Bukit Tinggi. TNI dan rakyat tidak menyerah. Panglima Besar Jenderal Soedirman menetapkan Perintah Siasat No.1/Th.1948, yang isinya adalah bahwa perang konvensional telah berakhir dan perang gerilya rakyat semesta dimulai, diseluruh seantero negeri.

Semangat Bela Negara TNI-Rakyat dikobarkan. Pasukan TNI menyerang musuh manakala Belanda lemah dan bersembunyi di kampung kampung manakala Belanda menyerbu. 

Para gerilyawan hidup bersama rakyat, diberi makan oleh rakyat dan dilindungi oleh rakyat.  Kadang kadang, rakyat yang menjadi korban penyiksaan tentara Belanda, lumbung padi mereka dibakar. Namun dengan semangat bela Negara ini, terjadi peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949, saat pasukan TNI menyerbu dan menguasai Kota Yogyakarta di siang hari, gencatan senjata tercapai.

Belanda berhasil digiring ke Konferensi Meja  Meja Bundar di Den Haag, Belanda dan pada Desember 1949 kedaulatan Republik Indonesia di akui Dunia.

Hari Bela Negara mengingatkan kita semua akan semangat tidak mengenal menyerah, percaya pada kekuatan sendiri, setia-kawan dan gotong royong.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles