Selasa, 10 Februari 2026

Menjadi Doktor (S-3) Lulusan Universitas di Amerika Serikat

Latest

- Advertisement -spot_img

Mengambil Program PhD, atau Program Doktor (S-3), di Amerika Serikat sebenarnya tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan adalah motivasi, niat untuk melakukan riset ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), pantang menyerah dan sanggup bekerja keras. Demikian disampaikan Professor Haryadi Gunawi, diaspora Indonesia dari University of Chicago AS, ketika menyampaikan paparan berjudul:”Garuda ACE: Dari Pelatihan Riset Terbuka Sampai Panduan Mencari Beasiswa S2/S3 Di Kampus Luar Negeri”, pada acara webinar yang digelar KBRI-Washington DC, AS, pada Kamis 8 Januari 2026.

Professor Haryadi menegaskan tentang lima mitos yang keliru berkaitan dengan mengambil progam PhD di AS. Mitos pertama yang keliru adalah bahwa seorang Doktor nantinya harus berkarir sebagai dosen atau professor. Ini tidak benar, terutama di bidang STEM (science, technology, engineering and mathematics), data di AS menunjukkan bahwa hanya 30% lulusan Doktor yang berkarir sebagai dosen,
sedang 60% lainnya masuk ke dunia industri dan sisanya membangun kewirausahaan mandiri. Sebagai contoh, 16% karyawan posisi insinyur di industri teknologi Google Corp. adalah pemegang gelar Doktor.

Mitos kedua yang salah adalah bahwa untuk mengambil program Doktor membutuhan biaya. Selalu pertanyaannya: “Apakah ada beasiswa?”. Ternyata, mitos inipun keliru karena seseorang yang mengambil program Doktor biasanya sudah ditawari professor pembimbingnya posisi sebagai Research Assistant atau Teaching Assistant. Berarti, ia bisa mendapatkan beasiswa kuliah gratis dan ada gaji bulanan.

Mitos ketiga yang keliru adalah bahwa gelar PhD berarti: “Pulang habis Duit”. Ini juga tidak benar, karena para Doktor, terutama dari jurusan jurusan Science, Technology, Engineering & Mathematics (STEM), selain dapat beasiswa gratis uang kuliah, mereka juga mendapatkan gaji bulanan sebagai Research Assistant maupun Teaching Assistant. Mereka justru bisa menabung. “PhD Program?, money is no problem, preparation is more important”, tegas Prof.Haryadi.

Mitos keempat yang keliru adalah bahwa untuk mengambil Doktor / S-3, harus melewati Program Master / S-2 terlebih dahulu. Ini tidak seluruhnya benar. Prof. Haryadi menyampaikan bahwa di universitas-universitas AS, para kandidat Doktor bisa langsung memulai program S-3 begitu ia lulus S-1, tanpa harus melewati program S-2.

Yang penting, sejak semester 5 hingga semester 8 sudah mulai mengikuti riset yang dibimbing sang professor, sudah mulai menulis hasil riset di journal ilmiah terpandang bersama professornya dan sanggup melaksanakan riset, minimal sekitar 20 jam seminggu. Begitu ia lulus S-1 dengan riwayat riset yang bagus, termasuk karya karya ilmiah di journal terpandang, maka begitu ia lulus S-1 akan langsung ditawari untuk masuk program Doktor dengan beasiswa penuh, serta mendapatkan uang saku bulanan.

Professor Haryadi lalu menceritakan tentang komunitas Garuda ACE dan Garuda Ilmu Komputer.

Pada kurun 2014 – 2025, komunitas Garuda ACE dan Ilmu Komputer telah membantu 200 mahasiswa Indonesia, dan hanya 33% yang berhasil bertahan melakukan riset selama 2 tahun. Tetapi, dari 33% yg bertahan, 95% dari mereka akhirnya mendapatkan beasiswa Doktor, bukti hasil kerja keras mereka. Salah satunya adalah Doktor Mohammad H Santiaji, Alumnus University of Chicago, yang menjadi pemandu acara webinar hari itu.

Mitos kelima adalah bahwa mengikuti program Doktor itu terlalu lama, membosankan, dan sering ditanya:”Kapan kerja?”. “Padahal kalau kita senang meneliti, lalu sudah menjadi peneliti muda dan digaji, rasanya ini adalah sesuatu yang sangat menarik dan diharapkan”, imbuh Professor Haryadi.

Para mahasiswa yang dibantu Professor Haryadi, antara lain, datang dari Universitas Indonesia, ITB-Bandung, ITS-Surabaya, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi DEL, Amikom – Yogyakarta, Universitas Bina Nusantara, Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Udayana, Universitas Tarumanegara, Universitas Diponegoro, Universitas Pendidikan Indonesia dan masih banyak lagi.

Mereka berhasil mengambil program Doktor dengan beasiswa penuh di Utah University, Arizona State University, University of Minnesota, Wisconsin University, University of Chicago, University of Illinois, Purdue University, Ohio State University, John Hopkins University, New York University, University of Virginia, Rice University, Georgia Instititute Of Technology dan Carnegie Mellon University.

Dalam acara webinar yang dihadiri 500 peserta dari seluruh Dunia itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi RI, Professor Stella Christie, memperkenalkan Program Sekolah SMA GARUDA, yaitu program menseleksi siswa siswa SLTA unggul untuk kemudian diberi beasiswa dan dikirim ke universitas-universitas Top 100 Dunia guna mengambil program S-1 bidang bidang STEM.

Hingga saat ini telah dikirim 368 siswa peserta program Sekolah SMA GARUDA, sebagian besar ke Amerika Serikat. Ditargetkan, para mahasiswa program GARUDA saat memasuki Semester 5 sudah diproyeksikan untuk langsung mengambil Program PhD/Doktor (S-3) setelah mereka lulus Sarjana S-1. Pada tahun ketiga tadi, mereka harus mulai berpartisipasi dalam riset riset yang digelar para Professor mereka dan nama mereka tercantum sebagai penulis journal journal ilmiah bersama sang Professor, untuk kemudian bisa langsung mengambil Program S-3/Doktor lewat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), atau lewat beasiswa dari Universitas masing masing.

Professor Stella menegaskan bahwa Program Sekolah GARUDA ini merupakan visi dan instruksi langsung Presiden Prabowo yang ingin melihat banyak ahli Indonesia dibidang STEM, saat Indonesia tampil sebagai Negara Industri Baru pada tahun 2045 yad.

Berkaitan dengan dana riset yang tersedia di Indonesia, yang jumlahnya mencapai Rp.3,2 trilyun, Prof. Stella membuka kesempatan kepada para diaspora professional di Amerika Serikat untuk melaksanakan riset bersama dengan para professor di Indonesia, sekaligus mengajak para ilmuwan muda sebagai asisten peneliti melalui program Master dan Doktor.

“Pendanaan disiapkan LPDP, namun sebelumnya perlu ada rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi”, demikian disampaikan Wamen Diktisainstek. Menindak-lanjuti arahan Wamendiktisainstek tadi maka Duta Besar RI di AS, Indroyono Soesilo segera menghimpun para diaspora professional di AS dan para professor di universitas universitas di Indonesia, untuk mengajukan proposal proposal riset bersama, sekaligus memanfaatkan topik topik riset tadi sebagai wahana program PhD para mahasiswa pasca sarjana dari Indonesia yang tengah studi di Amerika Serikat.

Kecilnya jumlah Doktor (S-3) lulusan AS asal Indonesia memang tampak. Data tahun 2018 memperlihatkan bahwa pada tahun 2018, Universitas-Universitas di Amerika meluluskan 55.000 PhD/Doktor, 6182 diantaranya Doktor asal Republik Rakyat Tiongkok, sedang di tahun yang sama, hanya ada 82 lulusan Doktor/PhD asal Indonesia di area STEM.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles