Generasi muda dinilai memiliki peran semakin penting dalam memperkuat komunikasi publik mengenai kehutanan, konservasi, dan kebencanaan di tengah derasnya arus informasi digital. Peran tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Youth Talk Forest Youthverse (FYV) Resilience Summit Aceh 2026 yang diselenggarakan Pusat Generasi Lestari (Pusgenri).
Kegiatan tersebut mempertemukan anak muda Aceh untuk membahas pengalaman dan perspektif mengenai bencana hidrometeorologi, konservasi, serta keterlibatan generasi muda dalam aksi lingkungan. Forum juga mendorong anggota Genries untuk tidak berhenti pada kepedulian terhadap kehutanan, tetapi mengambil peran sebagai komunikator yang mampu menyampaikan informasi secara kritis dan mendorong aksi di masyarakat.
Diskusi menghadirkan tiga pembicara muda dengan latar belakang berbeda, yakni Evriani Rotua Gea, mahasiswa magister Universitas Syiah Kuala sekaligus asisten dokter hewan; Jamalul, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala; serta Jihan Asyifa, pegiat kegiatan lingkungan yang pernah menjadi Duta Parlemen.
Evriani menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda ketika menerima informasi mengenai kehutanan, lingkungan, dan kebencanaan melalui media sosial. Ia mendorong anak muda memeriksa sumber dan membandingkan informasi sebelum menyebarkannya.
“Jangan langsung percaya seratus persen terhadap apa yang kita lihat di media sosial. Cari sumbernya, baca informasi lain, dan bandingkan beberapa pemberitaan sebelum mengambil kesimpulan,” ujar Evriani.
Menurut Evriani, generasi muda juga dapat berperan sebagai penghubung antara informasi konservasi dan pemahaman masyarakat. Pengalamannya dalam memberikan edukasi mengenai satwa liar menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan dalam membangun persepsi publik terhadap satwa dan upaya konservasi.
Ia menilai penggunaan media sosial secara bijak menjadi bagian dari tanggung jawab generasi muda sebagai agen perubahan. Selain menyaring informasi, anak muda perlu memastikan ruang digital tidak menjadi tempat berkembangnya informasi keliru maupun ujaran kebencian.
Sementara itu, Jamalul menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama dalam menghadapi persoalan lingkungan dan kebencanaan. Pengalamannya berkeliling Aceh selama dua bulan membuatnya melihat bahwa persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai unsur.
“Yang perlu kita bangun adalah kesadaran kolektif. Ketika kita memahami bahwa persoalan lingkungan dan bencana adalah persoalan bersama, maka kita juga akan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusinya,” kata Jamalul.
Menurut Jamalul, pemerintah, komunitas, dan individu tidak dapat bekerja secara terpisah untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Kolaborasi dan rasa memiliki terhadap persoalan bersama menjadi dasar untuk membangun respons yang lebih kuat di masyarakat.
Jihan Asyifa kemudian mendorong generasi muda untuk berani mengubah kepedulian menjadi tindakan. Ia merujuk pada pengalamannya dalam kegiatan penanaman pohon, kampanye melalui media sosial, dan mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan lingkungan.
“Masa muda adalah masa untuk berani. Kalau kita sudah tahu ada persoalan dan punya keinginan untuk melakukan sesuatu, jangan menunggu nanti. Saat ini adalah waktunya untuk bergerak,” ujar Jihan.
Forum tersebut menempatkan ruang digital sebagai bagian penting dari gerakan lingkungan. Di tengah cepatnya penyebaran informasi, generasi muda tidak hanya dituntut mampu menerima informasi, tetapi juga memeriksa kebenarannya sebelum menyebarkannya kepada publik.
Pendekatan tersebut memperluas bentuk keterlibatan anak muda dalam isu kehutanan. Aksi konservasi tidak hanya berlangsung melalui kegiatan lapangan, tetapi juga melalui kemampuan menyampaikan informasi yang akurat, membangun kesadaran publik, dan menggerakkan masyarakat untuk mengambil tindakan.
Melalui FYV Resilience Summit Aceh 2026, Pusgenri mendorong Genries mengambil posisi sebagai generasi yang kritis terhadap informasi sekaligus aktif dalam aksi lingkungan. Peran tersebut dinilai penting untuk memperkuat komunikasi kehutanan dan membangun kesadaran kolektif menghadapi persoalan lingkungan serta kebencanaan.
***



