Jumat, 2 Januari 2026

Gamelan, Wayang, dan Film Indonesia: Smithsonian Persembahkan Akhir Pekan Budaya Nusantara

Latest

- Advertisement -spot_img

Smithsonian’s National Museum of Asian Art (NMAA), salah satu institusi seni paling bergengsi di Amerika Serikat, mendedikasikan satu akhir pekan penuh untuk seni pertunjukan Indonesia.

Melalui kerja sama erat dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, D.C., NMAA menampilkan kekayaan budaya Nusantara melalui film, musik, dan teater tradisional.

Rangkaian acara dibuka pada Jumat, 26 September dengan pemutaran film bisu Setan Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Film ini menghadirkan mitologi Jawa melalui genre horor kontemporer, terinspirasi dari film klasik bisu Nosferatu karya Friedrich Wilhelm Murnau.

Setan Jawa mengangkat kisah pra-Islam ortodoks Indonesia tentang tujuh perjanjian manusia dengan iblis demi memperoleh kekayaan, dituturkan dalam kisah cinta dan pengorbanan yang sarat mistisisme.

Pemutaran film ini disertai iringan musik live karya komponis sekaligus vokalis Peni Candra Rini, bersama Profesor Andy McGraw dari University of Richmond, dalang I Gusti Putu Sudarta, serta para musisi Shahzad Ismaily dan Scott Clark. 

Live scoretersebut memadukan gaya tradisional Indonesia dengan eksperimen kontemporer, menggabungkan partitur terstruktur dengan improvisasi terbuka, menciptakan pengalaman multisensorial yang memperkaya intensitas visual film. Setelah pemutaran, penonton berkesempatan mengikuti sesi tanya jawab bersama Garin Nugroho.

Pada Minggu, 28 September, dalang I Gusti Putu Sudarta mempersembahkan pertunjukan Balinese Wayang Kulit Shadow Play.

Pertunjukan ini diiringi oleh live gamelan dan musik keroncong yang dimainkan oleh anggota Gamelan Raga Kusuma yang dikepalai oleh Profesor Andy McGraw serta diperkaya vokal Peni Candra Rini.

Kolaborasi ini bahkan menghadirkan kejutan musikal berupa versi keroncong dari lagu Bee Gees “Staying Alive.” Lakon yang dipentaskan adalah Sutasoma, kisah tentang putra tunggal sebuah keluarga kerajaan yang menolak tahta dan memilih mengasingkan diri ke hutan untuk hidup dalam perenungan Buddhis.

Sebelum mencapai pencerahan, ia harus menaklukkan berbagai raksasa hutan, termasuk binatang berkepala gajah dan ular raksasa. Pertunjukan ini berdurasi sekitar 75 menit, dan setelahnya penonton berkesempatan bertemu langsung dengan dalang serta mempelajari koleksi wayang yang digunakannya.

Hari yang sama ditutup dengan pemutaran film kolosal Opera Jawa, karya Garin Nugroho yang memadukan musik gamelan, puisi-puisi Jawa, dan koreografi tari tradisional. Film ini memiliki jejak global yang istimewa, karena lahir sebagai bagian dari New Crowned Hope Festival di Wina tahun 2006 yang diselenggarakan untuk memperingati 250 tahun kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart.

Dengan menghadirkan gamelan sebagai “opera Nusantara,” Garin menempatkan budaya Jawa sejajar dengan tradisi opera Barat.

Tema cinta, penderitaan, dan kemanusiaan yang diangkat Opera Jawa merefleksikan universalitas seni, sebagaimana Requiem Mozart yang berbicara tentang duka sekaligus harapan.

Seperti pada Setan Jawa, penonton juga diajak berdialog langsung dalam sesi tanya jawab bersama Garin Nugroho seusai pemutaran film.

Rangkaian pertunjukan ini diakhiri dengan resepsi yang menyuguhkan aneka kudapan khas Nusantara, memberikan kesempatan bagi para audiens untuk menikmati cita rasa Indonesia setelah meresapi keindahan seni dan budaya.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof. Indroyono Soesilo, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya rangkaian acara ini. “Indonesia adalah negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan bahasa, dan tradisi yang beragam.

Melalui film, musik, dan seni pertunjukan, kami tidak hanya memperkenalkan keragaman budaya kami, tetapi juga memperkuat jembatan persahabatan dengan masyarakat Amerika Serikat.” ujar Duta Besar.

Kerja sama antara KBRI Washington, D.C. dan Smithsonian Institution menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadikan seni dan budaya sebagai bagian integral dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–Amerika Serikat.

Di luar diplomasi politik dan ekonomi, pertukaran budaya diharapkan dapat menjadi jembatan paling nyata yang menghubungkan masyarakat kedua negara.

Film “Setan Jawa” dan “Opera Jawa” akan ditayangkan pada tanggal 4–5 Oktober di Asia Society, New York, dengan menghadirkan Garin Nugroho, Peni Candra Rini, I Gusti Putu Sudarta, serta Profesor Andy McGraw.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles