Senin, 19 Januari 2026

Bioplastik Rumput Laut Indonesia Tawarkan Solusi Global atas Krisis Mikroplastik

Latest

- Advertisement -spot_img

Indonesia menghadapi situasi genting terkait mikroplastik. Riset menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia menelan mikroplastik setara satu kartu ATM setiap minggunya.

Di tengah tantangan tersebut, inovasi lokal berbasis rumput laut hadir sebagai harapan baru: bioplastik ramah lingkungan karya anak bangsa yang kini dilirik dunia.

CEO sekaligus Co-Founder PT Seaweedtama Biopac Indonesia (BIOPAC), Dr. Noryawati Mulyono, mengungkap potensi besar bioplastik rumput laut sebagai solusi berkelanjutan dalam diskusi yang digelar Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (16/7).

Ia menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan paling terdampak pencemaran plastik harus segera beralih ke alternatif yang lebih hijau.

“Laut kita sedang darurat. Plastik dan mikroplastik telah mencemari ekosistem. Rumput laut adalah jawabannya—tumbuh cepat, tidak butuh lahan, dan menyerap karbon,” jelas Noryawati.

Bioplastik yang dikembangkan BIOPAC sejak 2010 menawarkan produk yang sepenuhnya biodegradable, bahkan edible, seperti kemasan makanan, sachet, hingga tas serut.

Dengan nilai jual yang mencapai Rp150.000–Rp300.000 per kilogram, produk ini jauh melampaui harga rumput laut kering biasa dan berpeluang besar menembus pasar ekspor, khususnya Eropa yang memperketat regulasi plastik konvensional.

BIOPAC juga memberdayakan petani lokal di Makassar dan Jakarta melalui koperasi, menyerap hingga 8 ton rumput laut setiap empat bulan.

Skema ini mengurangi risiko sosial akibat kemiskinan dan memastikan pendapatan stabil bagi para petani. “Panen tak lagi menumpuk sia-sia. Petani punya kepastian pembeli,” ujar Noryawati.

Meski biaya produksi masih menjadi tantangan, terutama karena harga satuan bioplastik yang berkisar US$4,47 per lembar, Noryawati yakin dukungan riset dan peningkatan skala industri akan menekan ongkos produksi.

Bioplastik rumput laut kini bukan hanya tentang kemasan yang ramah lingkungan, tetapi juga tentang perubahan sistem—mengurangi polusi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi sirkular. Dari tangan para petani, solusi untuk krisis global kini sedang tumbuh di lautan Indonesia. ***

- Advertisement -spot_img

More Articles