Negara-negara ASEAN menegaskan komitmen bersama dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Komitmen itu mengemuka dalam Pertemuan ke-28 ASEAN Senior Officials on Forestry (ASOF) yang berlangsung pada 7–8 Agustus 2025 di Luang Prabang, Laos.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan, Dr. Ristianto Pribadi, memaparkan perkembangan berbagai strategi konservasi mangrove yang telah dijalankan di kawasan Asia Tenggara.
Dalam presentasinya, ia menyoroti capaian proyek ASEAN Mangrove Network (AMNET) periode 2023–2025, termasuk pengembangan sistem informasi terpadu dan model silvofishery produktif di Brebes, Jawa Tengah.
Indonesia bersama negara anggota ASEAN telah memfinalisasi 17 panduan teknis untuk mendukung implementasi ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Management periode 2024–2030.
Panduan itu mencakup aspek pemetaan mangrove, penilaian stok karbon, edukasi publik, hingga penguatan tata kelola kawasan pesisir.
“Dokumen ini akan menjadi referensi dinamis yang diperbarui secara berkala agar selalu relevan dengan perkembangan sains dan kebijakan,” kata Dr. Ristianto dalam sidang pleno.
Indonesia yang mengelola 23% ekosistem mangrove dunia diharapkan terus memainkan peran utama dalam konservasi global.
Sebagai langkah konkret, Indonesia tengah memprakarsai pembentukan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat riset dan pengembangan mangrove tingkat internasional.
Dr. Ristianto mengajak negara anggota ASEAN dan Timor-Leste aktif mendukung penguatan AMNET, pengembangan ekowisata mangrove berbasis masyarakat, dan adopsi formal 17 panduan teknis sebagai dokumen hidup.
Melalui upaya bersama ini, ASEAN menegaskan tekad melindungi hutan mangrove demi masa depan lingkungan pesisir yang lebih tangguh dan lestari. ***



