Pemerhati lingkungan, iklim, dan geospasial A. Karsidi mengingatkan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu terus dipertahankan meskipun hujan mulai turun, karena pemulihan kelembapan tanah dan kondisi hidrologi gambut belum tentu berlangsung secara merata.
Dalam evaluasi cuaca dan iklim Indonesia periode September 2026 hingga Maret 2027, Karsidi menilai ancaman kekeringan dan karhutla perlu diantisipasi bersamaan dengan perubahan risiko menuju masa peralihan musim.
“Satu kali hujan tidak boleh langsung dianggap telah menghilangkan ancaman karena lapisan gambut bawah dapat tetap kering. Penanganan tidak boleh berhenti setelah api padam atau hujan mulai turun,” kata Karsidi dalam analisis tertulisnya tertanggal 19 September 2026.
Analisis tersebut merujuk pada laporan dinamika atmosfer Dasarian I September 2026 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan perkembangan dan prediksi ENSO dari NOAA/CPC bertanggal 14 September 2026.
Menurut Karsidi, September–Oktober masih perlu menjadi perhatian dalam menghadapi kekeringan, penurunan ketersediaan air, dan karhutla.
Vegetasi yang mengering serta penurunan muka air tanah gambut dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran.
Dalam materi tersebut, ia mengutip data BMKG yang menunjukkan bahwa pada Dasarian I September, sebanyak 92,62 persen wilayah mengalami curah hujan rendah dan 92,86 persen mengalami sifat hujan bawah normal. Sementara itu, 80,7 persen wilayah atau 564 zona musim masih mengalami kemarau.
Ia menilai perubahan kecil pada cakupan wilayah kemarau belum cukup untuk menunjukkan pemulihan kondisi secara nasional. Hujan lokal di beberapa wilayah juga belum tentu mengakhiri tekanan kekeringan di wilayah lainnya.
“Oktober belum dapat dianggap sebagai awal musim hujan yang stabil. Di banyak wilayah, terutama selatan ekuator, bulan tersebut masih berpotensi menjadi kelanjutan periode kering sehingga kesiapan pencegahan dan pemadaman perlu dipertahankan,” ujarnya.
Karsidi menjelaskan bahwa analisisnya menempatkan El Niño sebagai faktor penting yang memengaruhi kondisi tersebut. Perkembangan Indian Ocean Dipole (IOD) juga perlu dipantau karena pergerakannya menuju fase positif dapat menambah tekanan kering di sebagian Indonesia.
Namun, ia menekankan bahwa kecenderungan kenaikan indeks IOD belum cukup menjadi dasar untuk menyatakan telah terjadi IOD positif kuat.
Memasuki November, menurut analisis tersebut, cakupan wilayah sangat kering diperkirakan menyusut. Meski demikian, peralihan menuju kondisi lebih basah berpotensi berlangsung tidak seragam, dengan sebagian wilayah masih mengalami kekeringan sementara wilayah lain mulai menerima hujan.
Kondisi itu memerlukan kesiapsiagaan terhadap ancaman yang dapat terjadi bersamaan, yakni karhutla yang belum sepenuhnya berakhir serta hujan lebat lokal, petir, angin kencang, banjir, dan longsor.
“Berkurangnya wilayah dengan peluang curah hujan sangat rendah bukan berarti seluruh wilayah otomatis menerima hujan normal. Pemulihan sumber daya air dan kelembapan lahan tetap perlu dipantau,” katanya.
Untuk memperkuat pencegahan karhutla, Karsidi mendorong pemantauan terpadu terhadap curah hujan, hari tanpa hujan, tinggi muka air tanah gambut, kelembapan tanah, titik panas, arah dan kecepatan angin, tingkat bahaya kebakaran, serta kualitas udara.
Langkah lapangan perlu mencakup pemeliharaan tata air gambut, pemeriksaan sekat kanal, kesiapan sumber air dan pompa, peningkatan patroli di lokasi dengan riwayat kebakaran, serta tindak lanjut cepat terhadap indikasi kebakaran.
Ia menambahkan, operasi modifikasi cuaca dapat dimanfaatkan ketika tersedia awan potensial untuk mendukung pembasahan gambut dan daerah tangkapan air. Namun, upaya tersebut perlu berjalan bersama pengelolaan hidrologi lahan.
Karsidi menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas musim melalui koordinasi pemerintah, dunia usaha, aparat, dan masyarakat. Pemantauan serta tindakan lapangan perlu terus disesuaikan dengan perkembangan cuaca agar perlindungan terhadap warga, sumber daya air, dan ekosistem tetap berlanjut ketika ancaman bergeser dari kekeringan menuju peningkatan hujan.
***



