Indonesia memperkuat perannya dalam kerja sama kehutanan regional dengan mendorong pengembangan World Mangrove Center (WMC) sebagai platform kolaborasi internasional untuk mempercepat konservasi dan rehabilitasi mangrove. Komitmen tersebut disampaikan dalam The 21st ASEAN Working Group on Forest Management (21st AWG-FM) yang berlangsung di Siem Reap, Kamboja.
Delegasi Indonesia dipimpin Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, yang menegaskan bahwa diplomasi kehutanan menjadi salah satu instrumen strategis pemerintah dalam memperkuat kerja sama regional sekaligus menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan lingkungan global.
Menurut Ristianto, arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai negara yang berhasil mengelola sumber daya hutan secara berkelanjutan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berbagi pengalaman dan membangun kolaborasi internasional.
“Arahan Bapak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sangat jelas, yaitu menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai negara yang berhasil mengelola sumber daya hutannya secara berkelanjutan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang aktif berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi kawasan maupun dunia,” ujar Ristianto.
Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran strategis dalam menyerap emisi karbon, melindungi kawasan pesisir dari dampak perubahan iklim, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung kesejahteraan masyarakat. Namun, Indonesia juga mengingatkan bahwa mangrove di kawasan ASEAN masih menghadapi tekanan berupa deforestasi, alih fungsi lahan, pencemaran, dan dampak perubahan iklim sehingga membutuhkan penguatan kerja sama antarnegara.
Delegasi Indonesia turut mengulas perjalanan kerja sama pengelolaan mangrove di kawasan ASEAN yang tidak terlepas dari kontribusi Indonesia melalui pembentukan ASEAN Mangrove Network (AMNet) di Surabaya pada 2014. Jejaring tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat sinergi negara-negara ASEAN dalam mengembangkan pengelolaan mangrove yang berkelanjutan.
Indonesia juga memaparkan berbagai capaian AMNet Phase I, mulai dari pengembangan sistem informasi mangrove ASEAN, pembangunan model silvofishery, penyelenggaraan lokakarya regional, hingga penyusunan ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Management 2025–2030 beserta pedoman teknis implementasinya. Selain itu, Indonesia menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan AMNet Phase II yang difokuskan pada peningkatan kapasitas negara anggota, pertukaran pengetahuan, penguatan pengelolaan mangrove berbasis masyarakat, serta implementasi ASEAN One Billion Trees Growing Initiative (OBTGI).
Pada kesempatan tersebut, Indonesia juga memperkenalkan World Mangrove Center (WMC) yang diinisiasi Kementerian Kehutanan sebagai pusat kolaborasi global yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kebijakan, pembiayaan, dan implementasi rehabilitasi mangrove. Pusat kolaborasi tersebut akan memanfaatkan Mangrove Information Center (MIC) Bali sebagai pusat operasional sekaligus memperkuat jejaring ASEAN Mangrove Network.
“World Mangrove Center merupakan wujud komitmen Indonesia untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi dunia. Kami ingin membangun sebuah platform yang mampu menghubungkan pemerintah, akademisi, organisasi internasional, lembaga pembiayaan, sektor swasta, dan masyarakat sehingga upaya konservasi mangrove dapat dilakukan secara lebih cepat, terukur, dan berdampak nyata,” kata Ristianto.
Indonesia juga menyampaikan bahwa penguatan pengakuan terhadap World Mangrove Center akan terus didorong melalui berbagai forum internasional, termasuk COP30, United Nations Forum on Forests (UNFF21), dan APEC, sebagai bagian dari upaya membangun tata kelola mangrove global yang lebih kolaboratif.
Melalui partisipasi dalam 21st AWG-FM, Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung pengelolaan hutan lestari di kawasan ASEAN, memperkuat kolaborasi regional, serta berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan mangrove. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi ASEAN terhadap pencapaian target iklim global, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.
***



