Laporan terbaru Global Timber Index (GTI) menunjukkan sektor kayu global mengalami pertumbuhan terbatas pada Maret 2026 di tengah tekanan rantai pasok dan kenaikan biaya energi. Sejumlah negara seperti Tiongkok, Thailand, Ekuador, dan Republik Kongo mencatat kinerja positif, sementara negara lain, termasuk Indonesia, justru mengalami perlambatan.
Berdasarkan laporan yang didukung oleh International Tropical Timber Organization, empat dari sepuluh negara pilot berhasil mencatat indeks di atas ambang batas 50 persen yang menandakan ekspansi sektor. Tiongkok memimpin dengan skor 61,1 persen, diikuti Thailand 55,9 persen, Ekuador 50,8 persen, dan Republik Kongo 50,3 persen.
Sebaliknya, Indonesia mencatat indeks sebesar 42,9 persen, yang mengindikasikan kontraksi. Kondisi serupa juga terjadi di Malaysia dan Gabon yang mengalami perlambatan lebih dalam. Meski demikian, volume penebangan kayu di Indonesia dilaporkan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, menunjukkan adanya aktivitas produksi yang masih berjalan di tengah tekanan pasar.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa kenaikan harga bahan bakar akibat ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berdampak langsung pada biaya operasional industri kayu. Kenaikan ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari penebangan, transportasi domestik, hingga distribusi ekspor.
Sejumlah pelaku industri merespons kondisi tersebut dengan melakukan diversifikasi pasar ekspor, mencari jalur logistik alternatif, serta menyesuaikan kontrak bisnis. Selain itu, pelaku usaha juga mendorong pemerintah di masing-masing negara untuk memberikan intervensi, termasuk stabilisasi harga energi guna menjaga keberlanjutan industri.
Direktur Divisi Kehutanan FAO, Zhimin Wu, menegaskan pentingnya ketahanan sektor kehutanan dalam menghadapi tekanan global. “Industri kayu perlu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan eksternal, termasuk fluktuasi biaya energi dan dinamika perdagangan internasional, agar tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Selain tekanan ekonomi, laporan GTI juga menyoroti pentingnya peningkatan sistem ketertelusuran kayu (traceability). Upaya ini dinilai krusial untuk memenuhi standar perdagangan internasional, termasuk regulasi deforestasi Uni Eropa, yang semakin ketat terhadap asal-usul produk kayu.
Forum Global Legal and Sustainable Timber Forum (GLSTF) 2026 dijadwalkan akan menjadi wadah diskusi utama bagi pelaku industri global dalam mencari solusi inovatif guna memperkuat ketahanan sektor kayu ke depan.
Dengan berbagai tantangan tersebut, industri kayu global dihadapkan pada kebutuhan untuk bertransformasi, tidak hanya dalam aspek produksi, tetapi juga tata kelola dan keberlanjutan rantai pasok secara menyeluruh.
***



