Sebagai negara demokrasi terbesar di Dunia, Amerika Serikat (AS) menerapkan sistem demokrasi tiga pilar, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sistem yudikatifnya sangat independen, sedang sistem eksekutif dan legislatif-nya saling berimbang dan saling mengontrol. Sistem legislatif di AS berbentuk bikameral, yaitu Senat yang di wakili para Senator, dan Dewan Perwakilan Rakyat, yang dihuni para anggota DPR (House of Representative). Memang, sistem ini mirip dengan yang di Indonesia, lewat hadirnya DPR dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), namun kekuatan Senat di AS sangatlah besar.
Senat AS terdiri dari 100 senator — masing-masing 2 senator untuk setiap negara bagian, tanpa memandang jumlah penduduk. Seorang Senator menjabat selama enam tahun. Kekuasaan khusus Senat antara lain: 1) menyetujui atau menolak pengangkatan pejabat tinggi yang dinominasikan presiden, termasuk duta besar dan menteri, 2) meratifikasi perjanjian internasional lewat voting mayoritas 2/3 suara​, 3) mengadili proses impeachment yang diajukan oleh DPR​, 4) memberikan saran kepada presiden soal isu keamanan, militer, dan perdagangan luar negeri​.
Seorang Duta Besar yang mewakili Indonesia harus bisa bermitra dengan lembaga eksekutif, baik di pemerintah Federal AS maupun di pemerintah Negara Bagian AS, harus bisa menjalin hubungan dengan para anggota DPR dan senator AS, juga dengan para pakar universitas dan lembaga think tank, serta dengan dunia usaha AS. Duta Besar RI, Indroyono Soesilo, sejak memulai tugasnya pada September 2025 lalu, terus menjalin hubungan dengan para anggota parlemen, atau anggota konggres, baik para senator maupun para anggota DPR yang bermarkas di gedung parlemen AS, The Capitol Hill – Washington DC, guna memperkenalkan berbagai kebijakan Pemerintah Indonesia kepada para anggota konggres, sekaligus memperoleh kesepahaman, mengingat para anggota konggres AS ini juga mempunyai mitra di Pemerintah Federal AS, serta memiliki konstituen di negara negara bagian masing masing.
Pada 12 Maret 2026 lalu, Dubes Indroyono bertemu US Senator Tammy Duckworth dari Partai Demokrat asal negara bagian Illinois di Gedung Parlemen, Capitol Hill. Pertemuan ini berlangsung hangat mengingat Senator Tammy Duckworth mempunyai hubungan personal dan professional dengan Indonesia. Ia pernah bersekolah di Jakarta Intercultural School, yang sekarang bernama Jakarta Internasional School, dan bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Posisi Senator Duckworth sebagai anggota Komite Senat Untuk Angkatan Bersenjata AS dan anggota Komite Senat Untuk Hubungan Luar Negeri mempunyai kedekatan dengan Indonesia, antara lain memberikan dukungan nominasi Duta Besar AS untuk Indonesia. Juga mendorong peningkatan kerjasama pertahanan dan perdagangan antara AS dan Indonesia.
Senator Duckworth juga berupaya agar ASEAN semakin diperhitungkan mengingat kawasan ini aman, damai dan ekonominya bertumbuh pesat selama hampir 60 tahun, dengan jumlah penduduk sekitar 700 juta jiwa, menjadikannya potensi pasar yang besar. Senator Duckworth terakhir berkunjung ke Indonesia pada tahun 2023 lalu. Kerjasama negara bagian Illinois dengan Indonesia juga ditawarkan Senator Duckworth, utamanya di bidang pertanian dan energi. Pada tahun 2025, Indonesia mengimpor kedelai dari AS sebesar 2.21 juta ton, atau 87%, dari total kebutuhan kedelai didalam negeri dan kedelai tadi sebagian besar dipanen dari lahan-lahan pertanian di Illinois. Negara bagian ini juga memproduksi jagung, bukan hanya untuk bahan makanan, namun juga dipakai memproduksi bioethanol untuk energi.
Tawaran Senator Duckworth untuk bekerjasama di bidang energi, terutama energi biomassa, bioethanol, juga teknologi batubara bersih mendapatkan tanggapan positif dari Dubes Indroyono. Apalagi, Senator Duckworth menawarkan Kerjasama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Center for Technology & Innovation Studies (CTIS) di Indonesia dengan Arrgon Laboratory di Illinois. Arrgon Laboratory didirikan tahun 1946, dibawah Departemen Energi AS dan dioperasikan oleh University of Chicago, Illinois. Berkekuatan 1000 ilmuwan, Arrgon Laboratory melaksanakan riset dibidang fisika, biologi, energi dan perubahan iklim.
Dengan Indonesia, Arrgon Laboratory pernah bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), sekarang BRIN, untuk memproduksi radio isotop Mo-99, juga pelatihan dibidang non-poliferasi nuklir. Di bidang energi listrik, pernah dilaksanakan studi kelayakan hybrid mini-grid di Indonesia. Senator Tammy Duckworth juga menerangkan kemampuan Arrgon Laboratory dalam memisahkan gas CO2 dari batubara, sehingga energi yang dihasilkan adalah energi bersih (clean coal).
Duta Besar Indroyono juga mengundang Senator Duckworth kiranya berkenan untuk berkunjungan ke Indonesia. Tawaran ini disambut positif Senator Duckworth, bahkan ia ingin memimpin sendiri delegasi Illinois, yang terdiri para pejabat negara bagian Illinois dan para pengusahanya ke Indonesia.
***



