Sebuah inisiatif percontohan senilai 1 juta dolar Amerika Serikat resmi diluncurkan di Arusha, Republik Persatuan Tanzania, pekan ini untuk memperluas akses pembiayaan bagi organisasi produsen hutan dan pertanian. Program ini bertujuan memperkuat inklusi keuangan bagi kelompok petani kecil, perempuan pedesaan, komunitas lokal, dan lembaga masyarakat adat yang selama ini kesulitan memperoleh dukungan modal.
Program tersebut dijalankan oleh Forest and Farm Facility di bawah koordinasi Food and Agriculture Organization of the United Nations. Melalui skema pembiayaan inovatif, proyek ini akan menghubungkan organisasi produsen dengan lembaga keuangan nasional dan lokal agar pembiayaan dapat disalurkan langsung kepada anggota mereka.
Deputy Director Divisi Kehutanan FAO sekaligus Officer-in-Charge FFF, Ewald Rametsteiner, menyatakan bahwa organisasi produsen memiliki peran strategis dalam meningkatkan akses pasar, memperkuat mata pencaharian, dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Dengan menyatukan petani kecil dan pengguna hutan, organisasi produsen mampu memperkuat posisi tawar dan keberlanjutan usaha mereka. Namun mereka membutuhkan mitra keuangan yang tepat. Program ini bertujuan membantu lembaga keuangan melihat potensi tersebut dan mendorong pembiayaan yang lebih inovatif,” ujar Rametsteiner.
Program percontohan ini menguji model operasional baru yang tidak hanya bergantung pada hibah atau pembiayaan mikro. FFF akan memanfaatkan instrumen blended finance seperti pinjaman berbunga rendah, skema penjaminan, dana bergulir, dan asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha kecil di sektor kehutanan, agroforestri, madu, kopi, pembibitan, serta rantai nilai berbasis hutan dan pertanian.
Langkah ini juga mendukung upaya restorasi lanskap di Afrika, termasuk target inisiatif AFR100 yang menargetkan pemulihan 100 juta hektare lahan terdegradasi pada 2030 dengan mengaitkan restorasi, kewirausahaan, dan pembiayaan. Selama ini, banyak usaha kecil menghadapi kendala administratif dan tidak memiliki catatan keuangan formal sehingga sulit mengakses kredit komersial. Selain itu, produk keuangan yang tersedia belum dirancang untuk menyesuaikan dengan jangka waktu panjang yang dibutuhkan proyek restorasi untuk menghasilkan keuntungan.
Peluncuran proyek berlangsung bersamaan dengan Tanzania Matchmaking Event di Arusha pada 25 Februari, yang mempertemukan organisasi produsen, pelaku usaha berbasis restorasi, lembaga keuangan domestik, dan investor berdampak untuk menjembatani proyek kehutanan dan pertanian dengan calon penyandang dana. Forum tersebut juga menyoroti tantangan kelompok usaha “missing middle”, yaitu entitas yang terlalu besar untuk pembiayaan mikro tetapi belum memenuhi syarat pinjaman komersial.
FAO menyatakan bahwa inisiatif serupa akan diperluas ke Bolivia dan Ghana setelah pelaksanaan tahap awal di Tanzania. Pendanaan utama FFF didukung oleh lembaga pembangunan internasional dari Swedia, Inggris, dan Jerman.
Melalui proyek ini, FAO dan para mitra menargetkan terciptanya ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif guna memperkuat peran organisasi produsen hutan dan pertanian dalam pembangunan pedesaan berkelanjutan.
***



