Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara, Association of Southeast Asian Nations atau ASEAN, didirikan pada tahun 1967 oleh Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina. Sejak awalnya, ASEAN didirikan dengan komitmen menjadikan wilayah Asia Tenggara sebagai zona aman dan damai sehingga pertumbuhan dapat terwujud dan rakyat di wilayah ini menjadi semakin makmur dan sejahtera lahir-bathin.
Semangat ASEAN yang dirintis sejak tahun 1967 itu, berhasil dipelihara hingga saat ini. Dengan 11 negara anggota saat ini, ASEAN tetap terpelihara sebagai wilayah yang aman dan damai, pertumbuhan ekonominya menjadi salah satu yang tertinggi di Dunia dan jumlah penduduknya mencapai 700 juta jiwa. Memang ada permasalahan, seperti konflik perbatasan Cambodia – Thailand, ataupun permasalahan Mynamar, namun tetap diupayakan untuk diselesaikan “The ASEAN Way”.
Semangat untuk terus menggalang kebersamaan dan keharmonisan ASEAN juga merambah hingga manca-negara, termasuk di Amerika Serikat. Di Ibukota AS, Washington DC ini, berkumpul para Duta Besar ASEAN dalam organisasi ASEAN Committee in Washington DC (ACW), sedang para isteri diplomat perwakilan Negara Negara ASEAN berhimpun dalam ASEAN Spouse Circle (ASC).
Apalagi, sejak tahun 2022 telah disepakati ASEAN – US Comprehensive Strategic Partnership, atau kemitraan strategis komprehensip ASEAN – AS. Ini semakin memperkuat kerjasama intra-ASEAN dan antara ASEAN dengan mitra AS, di Washington DC untuk bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan hubungan antar-masyarakat.
Guna lebih memperkenalkan ragam budaya ASEAN kepada masyarakat AS, maka ASC menggelar beragam kegiatan budaya, baik secara bersama sama, maupun digelar oleh masing masing Negara. Pada 29 Oktober 2025, ASC menggelar kegiatan ASEAN Culture Day 2025, bertempat di Kedutaan Besar Malaysia, Washington DC, dipimpin Ketua ASC, Madame Soo Fen Lui, isteri Duta Besar Singapura di Washington DC.
Tampak ragam budaya yang digelar masyarakat ASEAN ini mirip satu sama lain, seperti tari-tarian dari Thailand dan Cambodia yang mirip tari-tarian asal Sumatera Selatan, peninggalan kerajaan Sriwijaya. Juga pakaian tradisional pria Malaysia dan Brunei mirip pakaian resmi Duta Besar Indonesia, Teluk Belanga, dengan ciri kopiah dan sarung yang digunakan.
Musik asal Filipina mirip dengan musik kolintang asal Sulawesi Utara. Dan masih banyak lagi kemiripan kemiripan budaya bangsa bangsa Asia Tenggara. Memang, sejatinya warga ASEAN, sejak dahulu, memang serumpun dengan ragam budaya dan bahasa yang hampir sama.
Pada 20 November 2025, ASC menggelar The Vibrant Harmony of Indonesia: A Cultural Journey with Angklung, diselenggarakan di Wisma Indonesia oleh Dharma Wanita KBRI Washington DC, dipimpin Dr. Nining Sri Astuti, Istri Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat, menampilkan tiga komunitas angklung di wilayah Washington DC, Maryland dan Virginia. Kegiatan yang sekaligus memperingati World Angklung Day ini, yaitu memperingati dikukuhkannya angklung sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, menarik perhatian para Duta Besar, diplomat dan komunitas Washington DC yang hadir, apalagi ada program interaktif, dimana semua hadirin diajak bermain angklung bersama sama.
Pada 15 Januari 2026, ASC melaksanakan rapat dan serah terima jabatan keketuaan ASC, dari Madame Soo Fen Lui ke Dr.Nining Sri Astuti. Kegiatan ini dimeriahkan pula dengan tari tradisional bersama asal Nusa Tenggara Timur, Ta Bola Bale, serta kegiatan melukis wayang dan topeng kayu gagasan komunitas Rumah Indonesia di Washington DC, pimpinan Tricia L.Sumariyanto. Untuk kegiatan melukis wayang dan topeng dipandu Butet Luhcandradini, sedang tentang makna wayang dan topeng dijelaskan oleh Ratna Cary.
***



