Kamis, 1 Januari 2026

APKI Berduka: Liana Bratasida, “Srikandi” Diplomat Pulp & Kertas Indonesia Tutup Usia

Latest

- Advertisement -spot_img

Kabar duka menyelimuti sektor industri manufaktur nasional. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Liana Bratasida, Ketua Umum APKI (Periode 2021-2026). Beliau mengembuskan napas terakhir di Jakarta, dalam usia 74 tahun. Kepergian sosok yang lahir pada tahun 1951 ini merupakan kehilangan besar bagi industri yang selama ini beliau perjuangkan dengan ketegasan prinsip dan diplomasi yang ulung.

Di bawah kepemimpinan Liana Bratasida, APKI bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya reaktif terhadap tantangan, tetapi proaktif membangun masa depan. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang berani mengambil sikap serta tajam dalam membaca dinamika kebijakan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Dewan Pengawas APKI, Ngakan Timur Antara, yang mengenang almarhumah sebagai figur berkarakter kuat.

“Ibu Liana adalah pemimpin yang lugas dan berintegritas. Ketegasan beliau selalu disertai kejelasan arah dan keberpihakan pada kemajuan industri nasional. Jejak kepemimpinannya meninggalkan standar tinggi bagi kami semua di APKI,” ujar Ngakan.

Standar tinggi tersebut tidak hanya diterapkan di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Ibu Liana aktif berdiri di garis depan menghadapi berbagai hambatan dagang dan isu lingkungan global. Wakil Ketua Umum APKI, Suhendra Wiriadinata, menyoroti peran vital almarhumah dalam membuka jalan komunikasi yang sebelumnya sulit ditembus.

“Beliau memiliki kemampuan networking internasional yang sangat kuat. Diplomasi industri dijalankan dengan konsisten, sehingga suara industri pulp dan kertas Indonesia didengar dan dihormati di tingkat global,” ungkap Suhendra.

Di balik upaya diplomasinya, terdapat dedikasi nyata untuk menjaga performa industri. Industri pulp dan kertas nasional mencatatkan fundamental yang solid sebagai salah satu pilar ekonomi bangsa. Pada tahun 2025, sektor ini mampu memberikan kontribusi sebesar 3,68 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Kepemimpinan beliau turut menjaga keberlangsungan hidup lebih dari 288 ribu tenaga kerja langsung dan menopang lebih dari 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung. Hingga pertengahan tahun ini, Indonesia pun kian memantapkan posisinya sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia dengan kapasitas yang terus bertumbuh.

Semangat beliau untuk memajukan industri tidak pernah surut hingga akhir hayat. Hanya sepekan sebelum berpulang, tepatnya pada 16 Desember 2025 dalam Rapat Kerja APKI, Ibu Liana masih memberikan arahan strategis. Dalam momen yang kini menjadi pesan terakhirnya, beliau menekankan bahwa transformasi hijau bukan lagi sebuah pilihan.

“Keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kewajiban kepatuhan dan ekspektasi mutlak rantai pasok global. Transformasi menuju industri hijau harus menjadi prioritas bersama agar industri pulp dan kertas Indonesia tetap relevan, bermartabat, dan berdaya saing di masa depan,” tegas Liana (16/12).

Di balik ketegasannya di podium, Ibu Liana adalah sosok pembina yang hangat namun teliti di mata rekan-rekan pengurus. Wakil Ketua Umum APKI, Rita Alim, mengenang bagaimana almarhumah selalu menuntut profesionalisme berbasis data.

“Ibu Liana bukan hanya seorang pemimpin yang tangguh, tetapi juga mentor yang sangat detail dan peduli. Beliau selalu menekankan pentingnya data dan fakta dalam setiap langkah advokasi yang kami lakukan. Kegigihan beliau dalam memperjuangkan kepentingan industri tanpa melupakan aspek lingkungan adalah teladan yang akan terus kami pegang,” kenang Rita.

Liana Bratasida lebih dari sekadar Ketua Umum; beliau adalah penjaga marwah industri. Keteladanan beliau dalam merawat dialog di tengah dinamika kebijakan yang kompleks menjadikan beliau rujukan dan penyeimbang bagi para pemangku kepentingan.

APKI kehilangan mentor dan penggerak utamanya. Namun, fondasi keberlanjutan dan semangat profesionalisme yang telah beliau tanamkan akan terus hidup, menjadi pijakan bagi industri pulp dan kertas Indonesia untuk terus tumbuh dan memberi manfaat bagi bangsa.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles