Ibukota AS, Washington DC, memiliki kompleks Museum yang dikenal sebagai Smithsonian Institution. Lokasi kompleks Museum tepat berada di pusat Ibukota Amerika Serikat, berdekatan dengan Istana Presiden AS Gedung Putih, Gedung Parlemen di Capitol Hill, serta monumen monumen bersejarah seperti Washington Monument, yang mengabadikan nama Presiden Pertama AS, Jefferson Memorial, mengabadikan nama Presiden AS, Thomas Jefferson yang menyusun Konstitusi AS, Lincoln Memorial, mengabadikan nama Presiden AS Abraham Lincoln yang menghapuskan era perbudakan di AS, serta berbagai monumen, antara lain: monumen mengenang Perang Vietnam, Perang Korea dan Perang Dunia II. Sedang Smithsonian Institution sendiri mengelola 21 Museum terbaik di Dunia, dengan dana pengelolaan mencapai US$ 1 milyar pertahunnya.
Pada Senin, 24 November 2025, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, bersama Wakil Duta Besar RI, Nidya Kartikasari, dan tim KBRI Washington, D.C. berkunjung ke salah satu Museum dalam jaringan Smithsonian Institution, yaitu National Museum of Asian Arts (NMAA) untuk menindaklanjuti implementasi Nota Kesepahaman (MoU) antara Smithsonian Institution dan Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB) Indonesia, yang telah ditandatangani pada tahun 2023 lalu.
Dalam pertemuan dengan Dr. Chase F. Robinson, Direktur NMAA bersama jajaran, kedua pihak membahas langkah konkret pelaksanaan kerjasama strategis di bidang sejarah seni, konservasi, kuratorial, digitalisasi koleksi, serta praktik museum profesional.
MoU tersebut mencakup bidang kerjasama, a.l. pertukaran pengetahuan, pelatihan peningkatan kapasitas, penelitian bersama, dan pengembangan program museum, termasuk pendidikan publik dan pelestarian warisan budaya Indonesia.
Dalam waktu dekat, NMAA dan Indonesia akan menggelar lokakarya pengembangan kapasitas di Jakarta, dengan menghadirkan para pakar dari NMAA. Lokakarya selama lima hari ini akan mencakup pelatihan bidang kuratorial, pengembangan pameran, konservasi dan riset ilmiah dengan fokus iklim tropis, serta digitalisasi koleksi dan pengelolaan aset aset museum. Selain itu, akan diselenggarakan pula dua kelas virtual mengenai mobilisasi dana dan pelayanan bagi pengunjung Museum, dalam rangka penguatan kapasitas museum Indonesia.
Duta Besar Indroyono Soesilo dan Tim juga berkeliling ke galeri NMAA, didampingi oleh Dr.Emma Stein, kurator Asia Tenggara. Dalam kunjungan tersebut, Dubes berkesempatan melihat secara langsung berbagai koleksi Indonesia yang tersimpan di NMAA,, antara lain: patung Budha dari perunggu, diprakirakan dibuat pada akhir abad ke-10, ditemukan di wilayah Nganjuk Jawa Timur. Patung Dewa Brahma dari perunggu, diprakirakan dibuat pada akhir abad ke-9, ditemukan di Jawa Tengah. Patung Betari Durga, terbuat dari batuan andesit, ditemukan di Jawa Tengah. Juga lampu minyak perunggu berbentuk naga diprakirakan dibuat pada abad ke-9. NMAA memiliki koleksi sebanyak 46.000 obyek, 36 koleksi diantaranya berasal dari Indonesia.
Sebagai bentuk penghargaan dan kerjasama erat antara kedua institusi, pihak museum juga memberikan akses istimewa kepada Delegasi Indonesia untukmemasuki ruangan koleksi khusus NMAA—ruang penyimpanan koleksi yang tidak dibuka untuk umum – untuk melihat koleksi langka asal Indonesia, termasuk artefak yang memilik inilai sejarah tinggi bagi studi budaya dan seni Indonesia.
Kunjungan ini menandai langkah penting dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di Amerika Serikat dan memperdalam kemitraan antara Indonesia dan Smithsonian Institution dalam pelestarian, penelitian, dan pengembangan museum modern. Program lanjutan mencakup kegiatan mentorship jangka panjang, kegiatan untuk komunitas dan rencana pameran Museum bersama di Amerika Serikat pada tahun 2027 mendatang.
KBRI Washington, D.C. akan terus mendukung implementasi MoU ini demi memajukan kerjasama budaya, mengangkat warisan Indonesia di kancah internasional, serta memperkuat hubungan antara kedua lembaga, melalui proyek-proyek yang member manfaat luas bagi masyarakat dan komunitas museum.
***



