Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menggelar Sarasehan Jabatan Fungsional Pengelola Ekosistem Hutan (PEH) bertema “Sinergi PEH Lintas Generasi, Aksi Bersama Lestarikan Alam”.
Acara ini berlangsung secara luring di Jakarta dan daring yang diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT), pejabat eselon, perwakilan organisasi profesi IPEHINDO, serta lebih dari 600 PEH dari berbagai unit kerja pusat dan daerah.
Tujuannya adalah memperkuat pemahaman peran PEH sebagai garda terdepan dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem hutan sekaligus membangun jejaring lintas generasi.
Sekretaris Ditjen KSDAE Amy Nurwanty, mewakili Dirjen KSDAE Prof. Satyawan Pudyatmoko, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi.
“Sinergitas antar-PEH maupun lintas generasi akan mengoptimalkan kinerja kita dalam perlindungan ekosistem hutan. Jabatan fungsional PEH adalah elemen penting, tidak hanya di Kemenhut, tetapi juga di pemerintah daerah,” ujarnya.
Amy menekankan bahwa peran PEH mencakup kapasitas teknis, manajerial, serta inovasi.
Ia berharap peningkatan jenjang atau jabatan disertai peningkatan kompetensi yang memberi dampak nyata bagi organisasi.
Selain itu, ia mendorong IPEHINDO memperluas kepengurusan hingga ke seluruh provinsi, dari saat ini baru terbentuk di delapan provinsi.
Dalam konteks tantangan global, Amy mengingatkan bahwa PEH berperan langsung dalam menjawab krisis perubahan iklim, polusi, dan hilangnya biodiversitas.
“Biodiversitas tidak hanya berada di kawasan konservasi, tetapi juga di hutan produksi, hutan lindung, dan area penggunaan lain. Semua membutuhkan peran aktif PEH di lapangan,” jelasnya.
Sarasehan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 dan menjadi forum berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi lintas generasi, serta merumuskan strategi penguatan jabatan fungsional PEH di masa depan. ***



