Jumat, 2 Januari 2026

45 Tahun Penghargaan Kalpataru Kembali Diberikan pada Pejuang Lingkungan Indonesia

Latest

- Advertisement -spot_img

Dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH) menyelenggarakan Penganugerahan Apresiasi Kalpataru Lestari dan Sarasehan 45 Tahun Kalpataru sebagai bentuk penghormatan kepada individu dan kelompok luar biasa yang terus berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan di berbagai penjuru Indonesia.

Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1980, Kalpataru telah menjadi simbol tertinggi penghargaan negara kepada para pejuang lingkungan.

Namun lebih dari sekadar simbol, Kalpataru berkembang menjadi gerakan moral dan inspirasi ekologis lintas generasi.

“Kalpataru bukan hanya pengakuan, tetapi simbol keberanian melawan arus ketidakpedulian terhadap bumi. Mereka yang menerima Kalpataru adalah lentera harapan dari pinggir-pinggir negeri yang menyala dalam senyap,” ujar Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup / Sekretaris Utama Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Rosa Vivien Ratnawati, dalam siaran resminya, Rabu (5/6/2025).

Tahun ini, sebagai bagian dari masa transisi kelembagaan KLHK menjadi KemenLH/BPLH, tidak dilakukan seleksi Kalpataru reguler.

Sebagai gantinya, KemenLH menganugerahkan Apresiasi Kalpataru Lestari kepada 12 individu dan kelompok penerima Kalpataru terdahulu yang tetap aktif, relevan, dan inovatif dalam pelestarian lingkungan selama bertahun-tahun.

“Indonesia butuh lebih banyak pejuang lingkungan yang tidak hanya heroik saat diberi penghargaan, tetapi terus berjuang meski tak lagi dilihat kamera,” lanjut Rosa Vivien.

Para penerima dinilai oleh tim pertimbangan independen yang terdiri dari pakar lingkungan, akademisi, dan perwakilan KemenLH/BPLH, dengan dukungan data lapangan dan pelacakan rekam jejak digital.

Berikut 12 penerima Apresiasi Kalpataru Lestari 2025:

  1. Paris Sembiring (Sumatera Utara)
  2. LSM Bahtera Melayu Bengkalis (Riau)
  3. Sadiman (Jawa Tengah)
  4. Oday Kodariyah (Jawa Barat)
  5. Desa Adat Penglipuran (Bali)
  6. TGH. Hasanain Juaini, Lc, MH (Nusa Tenggara Barat)
  7. Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari (Bali)
  8. Hamzah (Kalimantan Selatan)
  9. Komunitas Dayak Iban Menua Sungai Utik (Kalimantan Barat)
  10. Herman Sasia (Sulawesi Tengah)
  11. Kelompok Isyo Hill’s Rhepang Muaif (Papua)
  12. Timotius Hindom (Papua Barat)

Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga membina generasi penerus, membangun jejaring kolaboratif, dan mengembangkan pendekatan lokal dalam konservasi, meski dalam keterbatasan.

“Apa yang kami lakukan bukan untuk penghargaan, tapi karena kami tahu kalau bukan kami, siapa lagi yang akan menjaga hutan kami?” — Sadiman, penanam ribuan pohon di Wonogiri.

“Penghargaan Kalpataru bukan akhir, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Lingkungan bukan untuk diselamatkan sekali, tetapi dijaga seumur hidup.” — TGH. Hasanain Juaini, tokoh pendidikan berbasis ekologi dari NTB. ***

- Advertisement -spot_img

More Articles