Minggu, 19 April 2026

Riau Masuki Musim Kemarau, OMC Dikerahkan Tekan Risiko Karhutla

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau sebagai langkah antisipatif untuk menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya musim kemarau lebih awal pada 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan selama sembilan hari, mulai 14 hingga 22 April 2026, dengan total rencana 14 sorti penerbangan. Operasi dilakukan melalui penyemaian bahan semai guna meningkatkan curah hujan, menjaga kelembaban lahan, serta mengisi cadangan air di embung dan kawasan gambut.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Thomas Nifinluri, menyatakan bahwa pelaksanaan OMC merupakan bagian dari strategi pencegahan karhutla yang terintegrasi. “Kami melaksanakan OMC di Riau bekerja sama dengan BMKG dan TNI AU. Hingga pertengahan April, telah dilakukan dua sorti penyemaian dengan total 1.600 kilogram NaCl di sejumlah wilayah seperti Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Dumai,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Riau termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla dan telah menetapkan status siaga darurat sejak Februari hingga November 2026. Secara nasional, luas karhutla pada periode Januari hingga Maret 2026 tercatat mencapai 55.324,2 hektare, dengan Riau menjadi salah satu provinsi dengan luas kebakaran terbesar.

Menurut Thomas, pemerintah terus memperkuat langkah pengendalian melalui pendekatan pencegahan yang dikombinasikan dengan patroli terpadu, edukasi masyarakat, serta pembentukan kelompok Masyarakat Peduli Api. “Paradigma pengendalian karhutla saat ini berfokus pada pencegahan agar kejadian dapat ditekan sejak awal,” katanya.

Sementara itu, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa OMC dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan sebelum puncak musim kemarau. “Waktu paling efektif pelaksanaan OMC adalah menjelang musim kemarau, sehingga kelembaban tanah tetap terjaga dan cadangan air di lahan gambut dapat dimanfaatkan saat kondisi kering,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini terdapat tiga armada pesawat yang dioperasikan secara paralel untuk mendukung kegiatan tersebut dengan pembagian wilayah penyemaian. Ke depan, pelaksanaan OMC diharapkan dapat dilanjutkan oleh berbagai pihak, termasuk sektor swasta, selama kondisi atmosfer masih memungkinkan.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menekan risiko karhutla melalui kombinasi teknologi, koordinasi lintas sektor, dan peningkatan kesiapsiagaan di daerah rawan, guna menjaga kelestarian lingkungan serta meminimalkan dampak bencana.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles