Jumat, 24 Mei 2024

Pengusaha Seriusi Multi Usaha Kehutanan, Intip Potensi Minyak Atsiri

Latest

- Advertisement -spot_img

Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) serius untuk mengimplementasikan model bisnis multi usaha kehutanan pada areal pengelolaan Pemegang Berizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Salah satu komoditas yang potensial untuk dikembangkan adalah essential oil (minyak atsiri).

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo menjelaskan implementasi multi usaha kehutanan akan lebih mengoptimalkan pemanfaatan ruang (lanskap) hutan produksi sehingga tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi juga hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan kawasan dan jasa lingkungan.

Indroyono juga menyatakan menyatakan penerapan multi usaha kehutanan akan lebih mendorong keberterimaan sosial dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan.

“Multi usaha kehutanan dilaksanakan dengan pendekatan inklusif dan akan menjadi keniscayaan dalam pengelolaan hutan yang mengintregariskan fungsi produksi, ekologi dan sosial,” katanya, Sabtu, 18 November 2023.

Kunjungan APHI ke pabrik pengolahan minyak atsiri PT Indesso Aroma.

Salah satu komoditas yang potensial dikembangkan melalui implementasi multi usaha kehutanan adalah essential oil (minyak atsiri). Minyak atsiri telah digunakan sebagai bahan baku industri untuk bahan perasa (essence), perisa (flavor) dan wewangian (fragrance).

Untuk melihat bagaimana besarnya potensi minyak atsiri, jajaran APHI melakukan kunjungan ke pabrik pegolahan minyak atsiri PT Indesso Aroma di Purwokerto di sela rapat kerja APHI, 15-17 November 2023.

Rahardjo Benyamin dan Iman Santosa dari APHI (kanan) menyerahkan cenderamata kepada PT Indesso Aroma.

Indesso didirikan pada tahun 1968 awalnya hanya menyuling dan mengekspor minyak daun cengkeh. Indesso yang merupakan singkatan dari “Indonesian Essential Oils” adalah salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dan dunia untuk komoditas minyak atsiri.

Berdasarkan data Dewan Atsiri Indonesia, ekspor tahunan minyak atsiri Indonesia lebih dari 400 juta dolar AS. Berbagai riset mengungkapkan, nilai pasar global minyak atsiri untuk wewangian saja mencapai 1,6 miliar dolar pada tahun 2020. Nilainya diperkirakan meroket hingga 3,8 miliar dolar pada tahun 2028.

Data dari Kementerian Pertanian mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati berupa tanaman rempah, obat, dan aromatik yang bisa menjadi bahan baku minyak atsiri.

Untuk tanaman rempah, diantaranya adalah cengkeh, pala, kapulaga, dan vanili. Sementara untuk tanaman obat ada diantaranya ada jahe, kencur, adas, dan jeruk purut.

_________

Untuk tanaman hias, ada mawar, lavender, dan sedap malam. Untuk tanaman kehutanan ada gaharu, masoi, cendana, dan kemenyan. Selain itu ada juga tanaman aromatik yaitu serai wangi, akar wangi, kayu putih, dan nilam.

Pengembangan minyak atsiri di areal PBPH bisa dilakukan dengan pola agroforetry yang melibatkan masyarakat.
Berdasarkan data KLHK, per Oktober 2023, ada 246 unit PBPH Hutan Alam dengan luas areal pengelolaan 19,7 juta hektare, 291 unit PBPH Hutan Tanaman (11,3 juta hektare, dan 55 unit PBPH lain yang mengusahakan jasa lingkungan, silvopasture, wisata, hasil hutan bukan kayu (1,01 juta hektare). ****

More Articles