Senin, 15 Juli 2024

Pencegahan Permanen, Kebakaran Hutan dan Lahan Turun 87,6%

Latest

- Advertisement -spot_img

Upaya pencegahan secara permanen kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dilakukan berhasil menurunkan luas areal terbakar hingga 87,6%.

Prestasi tersebut bisa dicapai berkat kerja sama semua pihak termasuk sektor swasta.

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Laksmi Dewanthi menyatakan sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia terus melakukan upaya untuk memperkuat dan memperkuat upaya pengendalian karhutla.

“Komitmen untuk melakukan pencegahan secara permanen Karhutla itu dipertegas kembali oleh Presiden Jokowi Februari 2021,” kata dia saat Refleksi KLHK, Kamis 23Desember 2021.

Berdasarkan catatan KLHK, luas areal terbakar 2021 jika dibandingkan pada tahun 2014 (awal pemerintahan Jokowi) terjadi penurunan signifikan sebesar 87,06% atau turun seluas 1.547.598 hektare,

“Selain itu sejak tahun 2020 dan 2021 tidak terjadi asap lintas batas Negara,” katanya.

Laksmi mengungkapkan amanah Presiden Jokowi adalah memprioritaskan upaya pencegahan, membangun infrastruktur monitoring dan pengawasan harus sampai ke bawah.

Amanah lainnya adalah mencari solusi permanen, menata ekosistem gambut, tidak membiarkan api membesar, dan melakukan penegakan hukum.

Untuk mencapai solusi permanen, KLHK mengembangkan sistem AOL. Yaitu A untuk analisis cuaca dan iklim, O untuk operasional, dan L untuk pengelolaan lanskap (bentang alam).

Laksmi menjelaskan analisis cuaca dan iklim dilakukan terus menerus. Begitu tingkat kekeringan mengkhawatirkan, langsung dilakukan intervensi modifikasi cuaca.

Untuk Operasional, dintaranya dilakukan dengan memperkuat Satgas terpadu, penegakan hukum, dan pemberdayaan Masyarakat Peduli Api.

“Yang tidak kalah penting adalah pengelolaan landscape,” katanya.

Laksmi menekankan pengendalian karhutla dan perubahan iklim secara luas tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, namun butuh dukungan seluruh lapisan masyarakat, dunia usaha, bahkan dunia internasional.

“Kita perlu memperkokoh komitmen, memperkuat langkah, menyeiramakan semua aksi di lapangan, sehingga pengendalian perubahan iklim dan karhutla bisa dillaksanakan lebih baik dan lebih baik lagi,” pungkas Laksmi.***

More Articles