Hotspot Turun 617 Titik, Kemenhut Lanjutkan Operasi Pemadaman Karhutla

Latest

- Advertisement -spot_img

Penurunan jumlah titik panas atau hotspot belum membuat pemerintah menghentikan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kementerian Kehutanan tetap mengintensifkan pemadaman di darat, operasi udara, serta pemeriksaan lapangan untuk memastikan tidak ada sumber api dan bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Berdasarkan pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Senin (19/10/2026) pukul 21.00 WIB, satelit mendeteksi 487 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut turun 617 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.104 titik.

Di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, jumlah titik panas juga berkurang dari 748 menjadi 172 titik. Sumatera Selatan mencatat 64 titik, Kalimantan Tengah 49 titik, Kalimantan Selatan 40 titik, Kalimantan Barat 12 titik, dan Jambi tujuh titik. Sementara itu, Riau tidak mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Meski penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, kondisi di sejumlah wilayah masih memerlukan perhatian. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan justru mengalami peningkatan titik panas sehingga petugas tetap melanjutkan operasi pemadaman dan pemantauan.

Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Data tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Petugas perlu memeriksa setiap indikasi langsung di lapangan untuk memastikan keberadaan api.

Di Sumatera Selatan, Manggala Agni bersama TNI, regu pemadam perusahaan, dan masyarakat melakukan pemadaman di sejumlah wilayah, antara lain Muara Enim, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Petugas menghadapi tantangan berupa asap tebal, angin yang berubah arah, serta kebakaran bawah permukaan di lahan gambut.

Di Ogan Komering Ilir, petugas membagi area penanganan untuk memadamkan bagian depan dan sisi api. Mereka juga membuat sekat guna menghentikan penjalaran kebakaran ke area lain.

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, petugas melanjutkan pemadaman di Kotawaringin Barat, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Sukamara, dan Barito Selatan. Sejumlah lokasi berhasil dikendalikan, tetapi kebakaran permukaan dan bawah tanah di beberapa kawasan gambut masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Peningkatan titik panas di Kalimantan Selatan turut mendorong petugas mempertahankan operasi di Suaka Margasatwa Pelaihari serta sejumlah lokasi di Tanah Laut dan Banjarbaru. Di Kalimantan Barat dan Jambi, petugas juga melanjutkan pemeriksaan lapangan, pemadaman, penyekatan api, dan pendinginan meskipun jumlah titik panas menurun.

Untuk mendukung operasi nasional, pemerintah menyiagakan 61 armada udara. Sebanyak 17 unit mendukung patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 44 unit lainnya menjalankan operasi pengeboman air (water bombing).

Di darat, Manggala Agni bekerja sama dengan BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dan dunia usaha. Tim melakukan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan api, pembasahan, serta penyisiran bara.

Penanganan pada lahan gambut menjadi perhatian khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun nyala api tidak lagi terlihat. Petugas terus membasahi dan mendinginkan kawasan terdampak untuk mencegah kebakaran kembali muncul.

Selain risiko kebakaran, pemerintah juga memantau dampak asap terhadap kualitas udara. Data pemantauan partikel halus PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatera, dan Papua masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan mencapai kategori berbahaya secara lokal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan titik panas tidak selalu diikuti pemulihan kualitas udara secara langsung. Asap dari kebakaran, terutama pada lahan gambut, dapat bertahan di atmosfer dan berpindah mengikuti kondisi cuaca.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus.

Pemerintah juga meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran diminta segera melapor kepada petugas agar penanganan dapat berlangsung lebih cepat.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles