Dua peneliti dan praktisi penginderaan jauh Indonesia meraih Indroyono Soesilo Award 2026 pada penutupan The 47th Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) di New Delhi, Jumat (16/10). Dari empat penerima penghargaan, yang lain berasal dari Jepang dan India. Penghargaan utama diberikan kepada Yustinus Seno dari Auriga Nusantara Corp. melalui penelitian MapBiomas Indonesia: Annual Wall-to-Wall Mapping of Forest Ecosystems in Indonesia (1990–2024). Karya tersebut menggabungkan data satelit Landsat lebih dari tiga dekade, komputasi awan, dan pembelajaran mesin untuk memantau perubahan ekosistem hutan Indonesia.
Penghargaan Honorable Mention diraih Serliah Nur dari Indonesia atas penelitian pemetaan vitalitas bahasa dan perencanaan revitalisasi bahasa di Tana Luwu, Sulawesi Selatan. Ia mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis dan analisis sosiolinguistik untuk mendukung pelestarian bahasa daerah.
Sementara itu, Serenee Osman dari Nakanihon Air Co Ltd, Jepang, memperoleh penghargaan Technical Excellence melalui integrasi LiDAR udara, citra satelit, dan survei batimetri untuk menilai perubahan bentang alam akibat gempa Semenanjung Noto 2024. Penghargaan Special Recognition diberikan kepada Ankitha Reddy dari NRSC-Indian Space Research Organization (ISRO), India, atas platform Bhoonidhi yang memperluas akses data pengamatan Bumi.
Penghargaan ini mengabadikan nama Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, ahli penginderaan jauh senior, pelopor pengembangan penginderaan jauh di Indonesia dan salah satu pendiri Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN), yang saat ini menjabat Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.
Konferensi Penginderaan Jauh Asia ke-47, atau 47th Asian Conference on Remote Sensing 2026 (ACRS 2026) digelar di New Delhi, India, pada 12–16 Oktober 2026. Mengusung tema:” Remote Sensing for Future Earth: Innovation, Inclusion & Impact”, acara ini mempertemukan sekitar 800 peserta dari lebih dari 30 negara, mulai dari ilmuwan, lembaga antariksa, universitas, hingga pelaku industri geospasial.
Penginderaan jauh bukan lagi sekadar foto satelit. Teknologi ini kini menjadi mata dan otak Bumi: memantau hutan, lahan pertanian, banjir, kekeringan, gempa, perubahan garis pantai, hingga pergerakan udara dan laut. Di ACRS 2026, topik tersebut dibahas melalui delapan jalur utama, termasuk pertanian berkelanjutan, kecerdasan buatan geospasial (GeoAI), sensor satelit dan drone, Global Navigation Satellite System (GNSS), mitigasi bencana, serta pemanfaatan data untuk kebijakan publik.
Konferensi ini diselenggarakan bersama oleh Asian Association on Remote Sensing, Indian Society of Remote Sensing, dan Indian Society of Geomatics, dengan dukungan kuat ISRO-India, NRSC-India, JAXA-Jepang, Kementerian Kebumian India, serta berbagai lembaga riset dan perusahaan teknologi.
Bagi Indonesia, ACRS 2026 menjadi ruang penting untuk memperkuat kerja sama riset dan pertukaran data pengamatan Bumi. Dengan lebih dari 17.500 pulau, Indonesia sangat membutuhkan teknologi ini untuk eksplorasi sumberdaya alam, pengelolaan hutan, pesisir, perikanan, pertanian, dan tanggap bencana.
Pada akhirnya, ACRS 2026 menegaskan satu pesan: data dari langit hanya bermanfaat bila diterjemahkan menjadi keputusan yang melindungi manusia dan Bumi.
***



