Mahasiswa S-1 UI Ukir Sejarah Dalam Program Geosains Internasional SEG-EVOLNE

Latest

- Advertisement -spot_img

Lima mahasiswa S-1 Universitas Indonesia membuktikan bahwa usia dan jenjang pendidikan bukan penghalang untuk tampil di panggung geosains internasional. Mereka tergabung dalam Team Kenanga, tim dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), yang diundang mempresentasikan karya ilmiah dalam konferensi International Meeting for Applied Geoscience and Energy (IMAGE) 2026 di Houston, Texas, Amerika Serikat.  

Konferensi yang berlangsung pada 17–20 Agustus 2026 di George R. Brown Convention Center itu diselenggarakan oleh tiga organisasi bergengsi dunia: Society of Exploration Geophysicists (SEG), American Association of Petroleum Geologists (AAPG), dan Society for Sedimentary Geology (SEPM).

Undangan tersebut merupakan hasil kerja keras Team Kenanga selama mengikuti SEG EVOLVE, program pengembangan karier dan pelatihan geosains yang digelar SEG di Amerika Serikat.  Team Kenanga beranggotakan lima mahasiswa S-1 angkatan 2022, dari Program Studi Geologi dan Geofisika FMIPA UI, terdiri: Ellysa Dinda Nathasya, dari jurusan Geofisika, Michael Partogi, jurusan Geofisika, Hishnu Ghaitsul Hudna, jurusan Geologi, Luthfan Zaidan Akbar, jurusan Geologi dan Muhammad Fairuz Ulya, dari jurusan Geologi.  Mereka didampingi oleh Anne M. M. Sirait, Ph.D., sebagai penasihat fakultas dari Program Studi Geologi dan Geofisika FMIPA UI.

Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa, Team Kenanga merupakan tim pertama dan satu-satunya dalam program SEG EVOLVE yang seluruh anggotanya adalah mahasiswa program S-1. Umumnya, peserta program ini didominasi mahasiswa pascasarjana dari bidang geosains, teknik, dan disiplin terkait.  Dengan kata lain, lima mahasiswa S-1 UI ini berhasil masuk ke ruang belajar profesional yang biasanya diisi oleh peserta dengan jenjang pendidikan lebih tinggi.

SEG EVOLVE bukan kompetisi biasa. Program ini dirancang sebagai pelatihan intensif selama enam bulan yang meniru dunia kerja sesungguhnya dalam industri energi.  Peserta tidak hanya diminta memahami teori. Mereka harus bekerja sebagai sebuah tim, mengolah data nyata, berdiskusi dengan mentor profesional, menyusun strategi eksplorasi, hingga mempresentasikan hasil analisis seperti di hadapan calon investor.

Program ini menyediakan dua jalur utama. Jalur pertama adalah Energy Exploration Program, yang berfokus pada pencarian dan evaluasi sumber daya minyakbumi, gasbumi, serta panas bumi. Jalur kedua adalah Carbon Solutions Program, yang membahas solusi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS).

Team Kenanga mengikuti jalur eksplorasi energi. Mereka mendapat tugas mengevaluasi prospek hidrokarbon dengan menggunakan data nyata dari wilayah Eugene Island di bagian selatan Teluk Meksiko.  Dalam proyek tadi, Team Kenanga bekerja bersama para profesional industri dari berbagai negara. Mereka menelaah kondisi geologi regional, menganalisis karakter batuan, menafsirkan data seismik, memperkirakan potensi cadangan, hingga menghitung kelayakan ekonomi suatu prospek energi.  

Tugas semacam ini bukan pekerjaan sederhana. Data bawah permukaan bumi tidak selalu lengkap dan tidak mudah dibaca. Karena itu, peserta harus mampu menggabungkan berbagai informasi untuk menghasilkan keputusan yang masuk akal secara ilmiah maupun bisnis.  Mereka juga menggunakan perangkat lunak profesional yang lazim dipakai di industri energi, seperti SLB, Petrel, Kingdom, DecisionSpace, Paleoscan, dan RoseRA. Dukungan perangkat lunak tersebut memungkinkan mahasiswa UI berlatih dengan standar teknologi yang digunakan perusahaan-perusahaan global.

Hasil kerja Team Kenanga kemudian dipaparkan dalam presentasi akhir pada 2 Juni 2026 lalu. Dari proses itulah mereka memperoleh undangan khusus untuk membawa karya akhirnya ke konferensi IMAGE 2026 di Houston.

Perjalanan Team Kenanga tidak hanya menuntut kemampuan akademik. Ada tantangan lain yang tak kalah berat: perbedaan waktu antara Jakarta dan Houston.  Setiap pertemuan bersama mentor dan profesional industri mengikuti jam kerja Houston. Artinya, para mahasiswa harus menyesuaikan agenda kuliah, tugas kampus, dan diskusi proyek lintas negara yang dapat berlangsung pada waktu tidak biasa di Indonesia.  Program SEG EVOLVE sendiri menuntut komitmen sekitar 10 hingga 30 jam per minggu.

Peserta wajib mengikuti pertemuan mingguan dengan mentor, menjalani evaluasi teknis di tengah proyek, serta menyiapkan presentasi akhir tingkat eksekutif.  Namun, Team Kenanga menunjukkan kesungguhan untuk menyelesaikan setiap tahapan tepat waktu. Mereka membagi peran, menyatukan keahlian geologi dan geofisika, serta belajar berkomunikasi sebagai satu tim.

Duta Besar Republik Indonesia Indroyono Soesilo menyambut hangat kehadiran dan pencapaian para mahasiswa FMIPA UI di forum geosains internasional tersebut.  Menurutnya, keberhasilan Team Kenanga memiliki arti khusus karena Program Studi Geologi dan Geofisika UI tergolong masih muda, baru berkembang sekitar satu dekade. Meski demikian, mahasiswa dari bidang geosains ini telah menunjukkan keberanian, kemampuan, dan kesiapan untuk tampil serta menguji kapasitasnya di forum dunia. Ia menilai pengalaman seperti SEG EVOLVE sangat penting untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi perubahan industri energi.

Dunia membutuhkan tenaga muda yang menguasai ilmu kebumian, teknologi digital, kerja sama lintas disiplin, serta pemahaman mengenai transisi energi yang berkelanjutan.  Pengalaman paling berharga dari SEG EVOLVE bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat lunak atau membaca data seismik. Program ini juga melatih mahasiswa memahami alur kerja eksplorasi energi secara menyeluruh.  Dengan demikian, SEG EVOLVE membentuk calon profesional energi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga siap bekerja dalam tim multidisiplin dan lingkungan internasional.

Pencapaian Tim Kenanga ini juga melanjutkan jejak baik mahasiswa Indonesia di forum internasional. Sebelumnya, mahasiswa pascasarjana Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung berhasil meraih penghargaan Imperial Barrel Award dalam pertemuan AAPG di Houston pada 17 Agustus 2026 lalu.  Kini, Team Kenanga membawa cerita lain yang tak kalah membanggakan: lima mahasiswa S-1 dari UI berhasil menembus program internasional, bekerja dengan data industri nyata, dan memperoleh kesempatan mempresentasikan karya mereka di hadapan komunitas geosains dunia.  Dari ruang kuliah di Depok hingga panggung konferensi di Houston, Team Kenanga memperlihatkan bahwa talenta muda Indonesia siap belajar, berkolaborasi, dan memberi kontribusi bagi masa depan energi.

- Advertisement -spot_img

More Articles