Pada 13 Agustus 2026, para Duta Besar negara-negara ASEAN di Amerika Serikat berkunjung ke kantor pusat Netflix di Los Angeles, California – AS dalam program US-ABC Ambassador Tour 2026. Dalam rombongan tersebut hadir Duta Besar RI, Indroyono Soesilo. Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan ke perusahaan hiburan global, melainkan membuka peluang penting bagi Indonesia untuk memperluas pengaruh budaya dan industri kreatifnya di panggung dunia.
Hal yang membanggakan, dua eksekutif Netflix yang menyambut para duta besar ASEAN adalah diaspora Indonesia: Ruben Hattari, Director of Global Affairs Southeast Asia Netflix, serta Ryan Rahardjo, Director of Public Affairs Asia Pacific Netflix. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa talenta Indonesia telah ikut mengambil peran dalam pengambilan kebijakan di industri hiburan digital dunia.
Netflix merupakan layanan hiburan berbasis langganan yang menawarkan film, serial, dokumenter, gim, hingga program langsung melalui internet. Pada tahun fiskal 2025, pendapatan Netflix mencapai sekitar US$ 45,18 miliar, dengan laba bersih hampir US$ 11 miliar. Pada tahun 2024, perusahaan ini memiliki sekitar 302 juta pelanggan, menjadikannya salah satu jalur distribusi audiovisual paling berpengaruh di dunia.
Indonesia sendiri adalah mitra yang sangat menjanjikan. Pada tahun 2025, pelanggan layanan video-on-demand premium nasional diperkirakan mencapai 26,9 juta. Di Asia Tenggara, Netflix memimpin dari sisi pelanggan, pengguna aktif, dan jam tonton, meskipun harus bersaing ketat dengan Vidio, Viu, iQIYI, Disney+, dan platform lainnya.
Yang lebih penting, penonton Indonesia semakin menyukai karya dari negerinya sendiri. Sepanjang tahun 2025, lebih dari 90 persen pelanggan Netflix Indonesia menonton konten lokal. Pada kuartal IV/th2025, pangsa penayangan konten Indonesia di Asia Tenggara bahkan menyamai konten Korea, masing-masing sekitar 30 persen. Hingga awal 2026, sebanyak 35 judul film Indonesia telah masuk daftar Global Top 10 Netflix. Contohnya, Abadi Nan Jaya atau The Elixir mencatat lebih dari 11 juta penayangan hanya dalam beberapa hari setelah dirilis pada Oktober 2025 lalu. Film horor-zombie tersebut menjadi nomor satu kategori film non-bahasa Inggris Netflix di lima negara dan masuk Top 10 di 75 negara. Film The Shadow Strays juga masuk Top 10 di 85 negara, sementara The Big 4 menunjukkan bahwa aksi-komedi Indonesia mampu bersaing secara global.
Dalam pertemuan itu, Dubes RI membahas rintisan peluang kerja sama antara Indonesia an Netlfix untuk pengembangan naskah, riset cerita, proyek perdana sineas daerah, pelatihan produksi, animasi, efek visual, produksi virtual, hingga pemasaran internasional. Kerja sama dokumenter tentang konservasi laut, transisi energi, warisan budaya, kesehatan, serta inovasi juga sangat potensial.
Targetnya bukan hanya menambah jumlah film Indonesia di Netflix. Indonesia perlu menjadi pusat produksi dan pengembangan kekayaan intelektual kreatif Asia Tenggara: menciptakan cerita khas Nusantara, membuka pekerjaan berkualitas, menggerakkan usaha kecil dalam rantai produksi, dan membawa identitas Indonesia ke jutaan layar di seluruh dunia.
***



