Indonesia tampil kembali pada pameran akbar World of Coffee San Diego 2026 yang diikuti 15.000 peserta dari 90 negara, mengisi sekitar 650 booth pameran. Pada pameran akbar kopi dunia kali ini, yang berlangsung pada 10 – 12 April 2026, di San Diego–California, AS, pavilyun Indonesia tampil megah dengan nuansa warna merah–putih.
Peresmian pavilyun kopi Indonesia berlangsung pada 10 April 2026, dihadiri Duta Besar RI, Indroyono Soesilo, didampingi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida Budiman, Konsul Jenderal RI di Los Angeles, Purnomo A. Chandra, Atase Perdagangan KBRI Washington DC, Ranitya Kusumadewi dan para produsen dan eksportir kopi Indonesia.
Kopi Indonesia kembali menjadi salah satu bintang ekspor nonmigas. Pada tahun 2025, nilai ekspor kopi Tanah Air menembus sekitar US$ 2 miliar dan masih berpotensi meningkat seiring penguatan hilirisasi dan tren kopi spesialiti dunia. Hampir seperlima dari nilai tersebut, sekitar US$ 400 juta, mengalir ke Amerika Serikat, menjadikan AS pasar utama kopi Indonesia.
Peluang ini kini makin besar. Melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru disepakati Indonesia–Amerika Serikat pada Februari 2026 lalu, kopi Indonesia termasuk dalam 1.819 produk yang menikmati tarif impor 0% di pasar AS. Kebijakan ini membuat kopi Indonesia jauh lebih kompetitif dan membuka ruang negosiasi harga yang lebih menguntungkan bagi petani dan pelaku usaha.
Di mata konsumen dan roaster Amerika, kopi Indonesia dikenal eksotis dan berkarakter, dari Gayo, Toraja, Mandailing, Kintamani hingga Flores. Di tengah persaingan dengan Brasil, Kolombia, dan Vietnam, panggung World of Coffee San Diego 2026 menjadi momentum penting untuk mengukuhkan posisi Indonesia sebagai rumah kopi spesialiti dunia.
Kehadiran Deputi Gubernur Bank Indonesia pada acara ini adalah untuk menunjukkan bahwa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilaksanakan Bank Indonesia berhasil membina petani dan produsen kopi dari tahap perkebunan, ke pengolahan hingga ekspor ke luar negeri. Contoh CSR semacam ini bisa di replikasi pada CSR CSR yang dilaksanakan oleh berbagai perusahaan BUMN maupun swasta lainnya di dalam negeri.
Pasar kopi AS sendiri sangat besar. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$85 miliar, dengan konsumsi harian tinggi dan pertumbuhan pesat di segmen specialty coffee. Hasil survey memperlihatkan bahwa rata-rata orang Amerika minum kopi tiga kali sehari.
Di mata konsumen AS, kopi Indonesia dipandang eksotis, kompleks, dan berkarakter, dengan origin seperti Gayo, Toraja, Mandailing, Kintamani, hingga Flores yang menawarkan profil rasa unik, sering kali floral, cokelat, rempah, dan buah tropis. Karena itu, di World of Coffee San Diego 2026, Indonesia perlu menargetkan penguatan citra sebagai sumber specialty coffee berkualitas, memperluas koneksi dagang dengan roaster dan importir AS, serta mendorong kontrak jangka panjang yang menguntungkan petani dan pelaku usaha kopi nasional.
“Kami dari Asosiasi Kopi Spesialiti Indonesia (AKSI), dengan anggota lebih dari 1500 perusahaan yang beroperasi dari hulu hingga hilir, siap untuk memacu ekspor kopi dari Indonesia ke AS”, demikian disampaikan Ketua AKSI, Daryanto Witarsa, pada acara di San Diego ini.
Memang, produk kopi Indonesia di Pameran Kopi Dunia di San Diego ini tampil maksimal, dari perkebunan kopi, panen kopi, pengolahan kopi, roasting kopi, barista, hingga penyedia mesin pengolah kopi dan gelas gelas kertas untuk minum kopi produk pabrik pabrik kertas Indonesia.
***



