“Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi dan mineral kritis global. Tantangannya adalah bagaimana memastikan ketahanan energi nasional sekaligus mendorong nilai tambah, investasi berkelanjutan, dan alih teknologi, melalui kemitraan yang saling menguntungkan, dengan Amerika Serikat”, demikian disampaikan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, pada acara Temu Sapa Masyarakat dan Diskusi Sektor Energi dan Mineral Kritis, di Konsulat Jenderal RI, Houston – Texas,AS, Minggu, 8 Februari 2026.
Kegiatan, yang merupakan rangkaian kunjungan kerja Duta Besar RI untuk AS ke Texas, telah menjadi forum dialog strategis dengan diaspora profesional Indonesia di Houston, khususnya di sektor energi, minyak dan gas, serta mineral kritis.
Diskusi mengangkat tema “Energi dan Critical Minerals dalam Perspektif Kepentingan Domestik Indonesia dan Peluang Kerja Sama dengan Amerika Serikat”. Pembahasan mencakup ketahanan energi nasional, hilirisasi, transisi energi, serta peluang kerja sama dan investasi Indonesia–Amerika Serikat di sektor energi dan mineral kritis.
Selain dihadiri Konsul Jenderal RI di Houston, Ourina Ritonga, diskusi juga menghadirkan Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Washington D.C., Pangeran Ibrani Situmorang, dan Auli Kusuma, diaspora profesional Indonesia berbasis di Houston dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di sektor mineral, energi, dan teknologi rendah karbon. Bertindak sebagai moderator adalah Anthony Lie, President, Society of Indonesian Energy Professionals (SIEPH), Houston.
Dalam diskusi ini, diaspora Indonesia membahas teknologi baru penemuan migas menerapkan teknologi super-computer dan Artificial Intelligence, serta berhasil ditemukannya migas di batuan serpih (oil shale), di Sumatera. Di bidang mineral kritis, yang mencakup bauksit, timah, nikel dan tembaga, serta turunan logam tanah jarang-nya (rare-earth elements) diskusi telah berhasil membedah potensi mineral kritis Indonesia, antara lain dari bahan baku timah.
Dari mineral monasit yang ada di bahan baku timah, berhasil diproses dan diproduksi konsentrat logam tanah jarang Uranium dan Thorium. Indonesia tengah berupaya untuk melaksanakan riset guna menghasilkan 17 jenis logam tanah jarang lainnya dari mineral monasit tadi, antara lain Hidroksida, La2O3, Nd2O3, CeO3, Y2O3 dan Pr2O3.
Saat ini, tengah dirintis kerjasama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung dengan mitra dari Texas A & M University, University of Michigan dan University of Arizona.
Dalam diskusi tadi, para diaspora profesional Indonesia mengangkat beberapa usulan potensi kerja sama antara AS dengan Indonesia di bidang ini, mulai dari riset hingga hilirisasi.
Upaya dan semangat para diaspora Indonesia mendapat tanggapan dari Konsul Jenderal RI di Houston, Ourina Ritonga, dan berharap kiranya diskusi ini dapat memperkuat peran diaspora profesional sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung agenda energi dan mineral kritis nasional, sekaligus mempererat kerja sama Indonesia–Amerika Serikat di sektor strategis.
***



