Sabtu, 13 Juli 2024

Peneliti UGM Kembangkan Algaetree, Penyedot Karbon Setara Lima Pohon Dewasa Berusia 15 Tahun

Latest

- Advertisement -spot_img

Peneliti UGM berhasil mengembangkan prototipe Algaetree, sebuah teknologi dekarbonisasi untuk mengatasi karbon dioksida atau CO2 di udara terbuka.

Teknologi dengan nama Microforest 100 mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, bahkan setara dengan lima pohon dewasa berumur sekitar 15 tahun. Teknologi ini diyakini bisa berkontribusi pada pencapaian target Net Zero Emission

Microfest 100 diinisiasi oleh Guru Besar Teknik Kimia Fakultas Teknik, Prof Arief Budiman dan Dosen Fakultas Biologi Dr Eko Agus Suyono.

Keduanya merupakan Peneliti Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUIPT) Microalgae Biorefinery UGM melalui program dana pendamping dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui platform Kedaireka tahun anggaran 2022 lalu.

Penelitian tersebut dilaksanakan dengan startup PT Algatech Nusantara kemudian dikembangkan menjadi produk bernama Microforest 100.

Rangga Wishesa, CEO Algatech Nusantara menjelaskan cara kerja Microforest 100. “Instalasi setinggi dua meter tersebut berfungsi untuk menyerap karbon di udara dengan teknologi fotobioreaktor,” kata Rangga dalam pernyataannya dikutip, Jumat 28 Juni 2024.

Rangga menyambut baik bisa bekerja sama mengembangkan prototipe peneliti UGM. Startup tersebut membantu menambahkan beberapa fitur pelengkap seperti pengembangan desain, fabrikasi dan penambahan alat-alat sensor kondisi kultivasi agar Microforest mampu bekerja secara maksimal.

Menurutnya, sistem di dalam Microforest 100 akan menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, bahkan setara dengan lima pohon dewasa berumur sekitar 15 tahun. Hal ini didasarkan pada kemampuan mikroalga sendiri yang dapat menyerap karbon dioksida 30-50 kali lipat lebih banyak dibanding tanaman terestrial saat ini.

Peluncuran instalasi Microforest 100 diselenggarakan di Masjid Raya Syeikh Zayed Solo. Lokasi tersebut dinilai cocok karena tingginya tingkat pengunjung masjid tersebut. Alat ini diletakkan di ruangan terbuka supaya dapat menyerap CO2 yang dihasilkan pengunjung.

Menurut Eko Agus Suyono, mikroalga masih memiliki potensi agar dikembangkan menjadi produk olahan lain, seperti bahan bakar bioenergi. Harapannya, potensi tersebut dapat dieksplorasi lebih lanjut untuk dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

“Dengan begitu, pengurangan emisi karbon dapat berlangsung secara masif dalam mengatasi perubahan iklim,” tutupnya. ***

More Articles