Rabu, 24 April 2024

Terungkap Peran Hutan Tanaman Untuk Mendukung FOLU Net Sink 2030, Ternyata Signifikan

Latest

- Advertisement -spot_img

Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai FOLU Net Sink 2030.

Komitmen tersebut adalah kondisi dimana tingkat serapan gas rumah kaca (GRK) sektor hutan dan lahan lainnya (Forestry and Other Land Uses/FOLU) berimbang ataupun lebih tinggi dari tingkat emisinya (Net Sink) pada tahun 2030.

Ada beberapa aksi di tingkat tapak yang dijadikan andalan untuk mencapai komitmen tersebut. Salah satunya adalah pembangunan hutan tanaman.

Wakil Dekan Fakultas Kehutanan UGM Widiyatno memberikan gambaran bagaimana pengelolaan hutan tanaman bisa meningkatkan serapan karbon dan mendukung FOLU Net Sink.

Pada hutan tanaman akasia, potensi karbon tersimpan pada umur tanaman 1-6 tahun berkisar 11.09-88,11 ton per hektare, demikian penelitian Hardiana tahun 2010.

“Untuk menambah produktivitas dan meningkatkan serapan karbon pada hutan tanaman, maka perlu dilakukan Strategi Pengelolaan Hutan Tanaman dalam Manajemen Siklus Carbon,” kata dia pada saat diskusi Pojok Iklim, Rabu 8 Juni 2022.

Strategi itu antara lain menggunakan benih hasil pemuliaan dan penggunaan pemupukan serta penyiapan lahan yang tepat untuk peningkatan serapan karbon.

Widiyanto juga mengingatkan pentingnya untuk segera menutup areal hutan tanaman dan melakukan pengembangan lanskap mozaik pada hutan tanaman.

“Yang juga penting adalah peningkatan areal konservasi atau HCVF pada hutan tanaman,” katanya.

Tak hanya pada tanaman akasia, peran hutan tanaman jenis lain juga besar untuk mendukung FOLU Net Sink. Misalnya pada jenis tanaman jati.

Untuk hutan tanaman jati dengan memanfaatkan bibit unggul dan jarak tanam 8×3 meter, potensi cadangan  karbon mencapai 205,04 ton per hektare di umur 20 tahun.

Sementara pengkayaan tanaman di hutan alam sekunder dengan jenis meranti dengan jumlah 200 pohon per hektare berpotensi menambah cadangan karbon sebesar 139,52 ton per hektare di umur pohon 20 tahun. ***

More Articles