Kamis, 25 April 2024

Neraca Dagang Produk Kertas Kemasan Masih Defisit, Peluang Bagi Industri Nasional

Latest

- Advertisement -spot_img

Neraca perdagangan produk pulp dan kertas Indonesia mengalami surplus. Meski demikian untuk produk karton dan kertas kemasan, Indonesia justru mengalami defisit. Hal ini seharusnya dilihat sebagai peluang oleh pelaku industri pulp dan kertas tanah air.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian RI Merrijanti Punguan Pintaria menjelaskan bahwa sepanjang 2022, kinerja ekspor industri pulp dan kertas mencapai 8,6 miliar dolar AS dengan total volume 11,2 juta ton. Sementara nilai impor industri ini tercatat sebesar 3,9 miliar dolar AS dengan total volume 6,5 juta ton.

Dengan demikian industri pulp dan kertas surplus sebesar 4,7 miliar dolar AS, serta berkontribusi 4,17% terhadap ekspor nonmigas, atau setara menyumbang 3,99% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Industri kertas dalam negeri merupakan industri yang sangat potensial karena hampir semua jenis kertas dapat diproduksi di dalam negeri, termasuk kertas uang dan berharga yang memiliki spesifikasi khusus dalam memenuhi aspek security. Indonesia juga sudah mencetak paspor dari negara-negara lain di dunia. Jadi, ini suatu kelebihan dari hasil industri kertas dan percetakan kita,” jelas Merri seperti dikutip, Jumat 13 Oktober 2023.

Merri sebelumnya membuka Pameran AllPack dan AllPrint Indonesia 2023 resmi di Jakarta International Expo, Kemayoran. Pameran ini akan menghubungkan lebih dari 1.100 perusahaan, di mana 200 perusahaan diantaranya adalah UMKM dan siap menarik lebih dari 35.000 pengunjung baik lokal maupun internasional.

Merri juga mengungkapkan, sepanjang 2022, kinerja ekspor industri kemasan dari kertas dan karton tercatat mencapai 65,49 ribu ton dengan nilai 166,35 juta dolar AS. Sementara dari sisi impor pada 2022 tercatat sebesar 123,95 ribu ton dengan nilai 269,51 juta dolar AS.

“Artinya industri ini masih defisit. Ini peluang untuk kita, karena permintaan di dalam negeri masih tinggi tetapi belum bisa disuplai oleh industri dalam negeri, baik itu dari sisi kecepatan maupun kualitas produk,” tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini terdapat lebih dari 840 perusahaan kemasan dari kertas dan karton di berbagai wilayah Indonesia. Para pelaku usaha tersebut telah mampu memproduksi berbagai jenis kemasan dengan kualitas yang memenuhi standar konsumen.

Merri melanjutkan, untuk menjaga kelangsungan proses produksi dan pengembangan industri serta meningkatkan daya saing, pemerintah telah memberikan jaminan kemudahan dalam mendapatkan bahan baku dan bahan penolong industri.

Selain itu, langkah strategis yang telah pemerintah jalankan, di antaranya menciptakan iklim usaha yang kondusif, memberikan kepastian hukum, memacu transformasi digital, serta memfasilitasi insentif fiskal dan nonfiskal.

Adanya pameran Pameran AllPack dan AllPrint Indonesia 2023 ini juga dinilai dapat memberikan peluang kepada para pelaku industri pengemasan dan percetakan untuk meningkatkan pendapatannya.

“Apalagi produk kemasan dari kertas dan karton ini digunakan oleh berbagai industri, seperti industri makanan dan minuman, alas kaki, farmasi, kosmetik, elektronik, hingga e-commerce dengan perkiraan kebutuhan nasional pada 2023 mencapai 8,9 juta ton,” kata Merri.

Peserta pameran Pameran AllPack dan AllPrint Indonesia 2023 berasal dari 19 negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Vietnam, Korea Selatan, India, Jerman, Perancis, Italia, Tiongkok, Austria, India, Indonesia, Taiwan, Thailand, Inggris, Australia, Kanada dan USA. ***

More Articles