Senin, 17 Juni 2024

Manfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu, BRIN-DTKI Sinergi Hasilkan Damar Berkualitas

Latest

- Advertisement -spot_img

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepakat menjalin kerja sama dengan PT. Damar Tree Krui Indonesia (DTKI) untuk bersinergi menghasilkan damar yang berkualitas.

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) kedua belah pihak dilakukan melalui Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN dengan DTKI, di Tangerang Selatan, Banten,  Jumat 23 Desember 2022.

Kerja sama akan berjudul Pemurnian Damar Mata Kucing (Shorea javanica K.et V) berfokus pada Penelitian Pemurnian Damar (Shorea javanica K.et V) dan Pembuatan Alat Evaporasi Damar Sederhana.

“Kami menyambut baik kerja sama dan kolaborasi dengan industri. Inilah salah satu fungsi Science for Business tak hanya Science for Science. Mudah-mudahan kerja sama dengan DTKI berkah, yakni tumbuh dan berkembang terus,” harapkata  Akbar Hanif Dawam A. selaku Kepala Kepala PRBB BRIN.

Damar adalah salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berpotensi sebagai bahan baku produk nutrasetikal.

Produk nutrasetikal didefinisikan sebagai zat yang memiliki manfaat fisiologis atau memberikan perlindungan terhadap penyakit kronis, menunda proses penuaan dan meningkatkan harapan hidup.

Saat ini nutrasetikal mendapat banyak perhatian karena memiliki potensi nutrisi, keamanan dan efek terapi. Produk tersebut diharapkan berasal dari bahan alami antara lain madu, ekstrak tumbuhan, dan resin/damar.

Direktur DTKI, Shafik Bakri mengungkapkan, sejak 2005 sudah mengaplikasikan penggunaan damar dengan PIC Kerja Sama PRBB, Totok Kartono Waluyo untuk penggunaan pernis, dan lain-lain, tetapi belum maksimal.

Dirinya juga mengisahkan sejak 2002 telah melakukan pameran-pameran damar di tingkat internasional seperti di Dubai. “Ternyata damar bisa dimakan dan obat untuk menguatkan kehamilan,” terang Shafik dengan penuh antusias.

Shafik membeberkan bahwa damarnya pernah dikirim ke Perancis untuk produk minuman. Untuk Asia dipakai sebagai bahan baku tinta dan produk makanan serta minuman.

Di Taiwan digunakan sebagai semi konduktor elektronik. Kalau di Bali digunakan sebagai dupa damar. “Semua agama memakai damar dalam ritual keagamaannya,” jelasnya.

“Damar juga dipakai untuk menggoreng ikan, kerupuk sehingga gurih, renyah dan tak mudah lempem. Namun, masih ada rasa getir/pahitnya terasa di lidah. Untuk itulah kita bekerjasama dengan BRIN, tempatnya para ahli. Kita DTKI siap support bahan damar untuk riset bersama,” terang Shafik.

Totok Kartono Waluyo, selaku Koordinator kerja sama dari PRBB BRIN, menjelaskan bahwa telah lama mengerjakan riset damar tetapi sempat terputus-putus pendanaannya. Bahkan sejak 2016 sudah mengajukan paten formulasi vernis berbahan damar, namun masih status terdaftar di KemenkumHAM.

“Sejauh ini, kami telah menerbitkan pedoman teknis menyadap damar. Selain itu, bersama Pak Shafik sebagai konseptor 2 nomor SNI damar tentang uji visual dan klsifikasi, prasyarat dan cara uji laboratorium. Ke depan kita akan berfokus pada Penelitian Pemurnian Damar dan Pembuatan Alat Evaporasi Damar Sederhana seperti yang tertuang dalam dokumen perjanjian kerja sama,” pungkas Totok. ***

More Articles