Kamis, 25 April 2024

Linimasa Prakiraan Cuaca Indonesia Tahun 2023, PBPH Perlu Antisipasi Demi Jaga Produksi

Latest

- Advertisement -spot_img

Indonesia diperkirakan akan terimbas fenomena El Nino lemah yang membuat  cuaca lebih kering pada tahun 2023.

Perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) bisa mengantisipasi kedatangan fenomena tersebut agar produksi kayu tetap berkesinambungan dan optimal.

Pakar Teknologi Modifikasi Cuaca Profesor Asep Karsidi menjelaskan,  berdasarkan prediksi yang telah dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Amerika Serikat, maupun BOM (Bureau of Meteorology) Australia, masa fenomena cuaca La Nina akan segera berakhir dan memasuki fenomena El Nino.

“Berdasarkan analisis prediksi fenomena La Nina dan El Nino, baik yang dilakukan NOAA, BOM, dan BMKG, menunjukkan bahwa fenomena La Nina mulai meluruh dan menuju El Nino lemah,” kata Asep saat diskusi yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Rabu, 25 Januari 2023.

Asep memaparkan lini masa (timeline) prediksi cuaca tahun 2023. Dijelaskan, La Nina mulai meluruh dan memiliki kecenderungan netral dan menuju El Nino Lemah pada bulan Mei-Juni 2023.

El Nino diprediksi mulai masuk pada Agustus 2023 dengan peluang 50%. Hal ini akan berimplikasi pada perubahan peluang proses pertumbuhan awan konveksi yang bisa menjadi hujan di Indonesia. Kemungkinan proses pembentukan awan konveksi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.

“Artinya pada tahun 2023 kondisinya akan lebih kering dari tahun 2022,” kata Asep.

Untuk prakiraan sebaran spasial curah hujan di Indonesia, Asep menjelaskan bahwa curah hujan pada Februari  didominasi dengan curah hujan kategori menengah 150-300 mm/bulan.

Namun beberapa daerah seperti Sumatera Utara dan Riau diperkirakan dengan curah hujan 100-150 mm/bulan. Untuk wilayah Jawa, NTB, NTT kemungkinan mengalami curah hujan tinggi 400-500 mm/bulan.  

Pada bulan Maret dan April wilayah yang mengalami curah hujan tinggi berkurang. Hampir seluruh wilayah didominasi dengan curah hujan menengah 150-200 mm/bulan.

Pada bulan-bulan berikutnya akan ada pengurangan curah hujan. Mulai bulan Mei hingga Juli, Curah hujan akan terus berkurang.

Asep juga menjelaskan sifat hujan pada bulan februari hingga Juli 2023 didominasi oleh sifat hujan Normal  dan Bawah Normal. Artinya besaran curah hujan akan sama atau lebih kecil dari besaran nilai curah hujan rata-rata klimatologisnya.

Ketua Umum APHI Indroyono Soesilo menyatakan adanya prediksi cuaca menjadi informasi yang sangat berguna bagi PBPH untuk mengoptimalkan produksinya.

Menurut Indroyono, cuaca yang lebih kering akan mendukung bagi PBPH yang memproduksi kayu hutan alam. Cuaca kering memudahkan operasional dalam pemanenan dan pengangkutan kayu bulat.

“Ketika cuaca mendukung, genjot produksi. Jadi harusnya produksi (kayu hutan alam) tahun ini bagus,” katanya.

Sementara bagi PBPH Hutan Tanaman, Indroyono mengingatkan perlunya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jika perlu operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk pembasahan lahan bisa dilakukan.

“Bila perlu jika bulan April (ketika pengurangan curah hujan) lakukan TMC,” kata Indroyono. ***

More Articles