Senin, 15 Juli 2024

KLHK Luncurkan SiPPEG, Perkuat Pengelolaan Gambut Berkelanjutan

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan Sistem Informasi Perlindungan Pengelolaan Ekosistem Gambut (SiPPEG) yang menyediakan informasi mulai dari Indeks Kualitas Ekosistem Gambut hingga data detil Tinggi Muka Air Tanah (TMAT).

Adanya SiPPEG diharapkan bisa mendukung upaya untuk memperkuat perlindungan dan pengelolaan gambut demi mencapai komitmen penurunan emisi karbon untuk mencegah perubahan iklim.

SiPPEG diluncurkan secara simbolis oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP27 UNFCCC di Sharm El Sheikh, Mesir, Rabu, 16 November 2022.

“SiPPEG akan mendukung center of excellence pengelolaan gambut berbasis bentang alam dan memberi banyak manfaat pada upaya global untuk perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut,” kata Alue.

SiPPEG dirancang untuk menyediakan informasi dan data secara transparan dan akuntabel yang bisa diakses oleh publik. Wamen Alue berharap, adanya SiPPEG bisa menjadi platform untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan gambut. Termasuk oleh Negara-negara lain pemilik gambut tropis seperti Republik Kongo, Brazil maupun negara pemilik gambut tempered atau boreal.

Wamen mengataan, semakin banyak yang terlibat akan semakin luas juga informasi yang bisa dimanfaatkan bersama demi kebaikan pengelolaan ekosistem gambut.

Direktur Pengendalian Kerusakan Gambut KLHK SPM Budisusanti mengatakan perlunya keterlibatan multi pihak dalam pengelolaan gambut karena banyaknya aktivitas dan pemanfaatan yang dilakukan pada sebuah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

“Kolaborasi semua pihak menjadi keniscayaan untuk pengelolaan ekosistem gambut,” kata Budisusanti.

Indonesia memiliki 24,2 juta hektare lahan gambut yang terbagi dalam 865 KHG. KLHK berharap center of excellence dalam pengelolaan gambut berbasis bentang alam bisa terbangun dengan melibatkan seluruh stakeholder termasuk sektor swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Budisusanti mengatakan, beberapa center of exellence pengelolaan gambut sudah memiliki dasar khusus yang kuat dengan adanya Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG).

Deputy Director of Corporate Strategy & Relations APP Sinar Mas, Iwan Setiawan menyampaikan perlunya bekerja sama dengan para ahli dalam  mengembangkan pendekatan strategis Center of Excellence perlindungan dan pengelolaan gambut.

Dia menjelaskan dalam pemanfaatan dan tujuan keekonomian, tidak boleh diabaikan pentingnya pengimplementasian konservasi maupun restorasi lahan gambut. “Oleh karena itu sektor swasta harus terus mengejar solusi berbasis data science yang kredibel,” katanya.

Iwan menjelaskan, dalam pengelolaan gambut APP Sinar Mas menggunakan penginderaan jauh untuk pemetaan topografi dengan menggunakan teknologi Lidar. Areal yang dipetakan mencapai sekitar4,5 juta hektaryang mencakup areal konsesi maupun areal-areal lain di sekitarnya.

Berdasarkan pemetaan Lidar, bisa dilakukan tata kelola air, dilakukan rezonasi lahan gambut, penghentian lebih dari 35.000 hektar areal produksi untuk direstorasi. Iwan mengatakan, pihaknya juga bekerja sama dengan para pakar dan ahli dalam mengembangkan jenis-jenis pohon produksi yang cocok dengan muka air gambut yang tinggi.

Upaya lain yang dilakukan adalah melibatkan masyarakat untuk mencegah kebakaran di lahan gambut dengan mengembangkan programDesa Makmur Peduli Api (DMPA).

Sementara itu Deputy Director of Sustainability and Stakeholder Engagement APRIL Group Dian Novarina menjelaskan, pihaknya menggunakan pendekatan produksi-perlindungan pada ekosistem gambut. Berdasarkan pendekatan ini, areal produksi menjadi benteng yang mengelilingi areal perlindungan. ***

More Articles