Kamis, 8 Januari 2026

Kemenhut Perkuat Sinergi Lintas Sektor Tangani Kayu Sisa Bencana di Sumatera

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan melanjutkan penanganan kayu sisa bencana hidrometeorologi di wilayah Aceh Utara dan Sumatera Utara dengan fokus utama membuka kembali akses warga, fasilitas pendidikan, dan permukiman terdampak. Hingga hari ke-15 pelaksanaan, kegiatan penanganan dipusatkan di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

Tim gabungan Kemenhut yang terdiri dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Balai Pemantapan Kawasan Hutan, serta Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Sumatera bekerja bersama TNI, Kementerian Pekerjaan Umum, dan unsur lainnya. Sebanyak 23 unit alat berat dikerahkan, terdiri atas ekskavator capit, ekskavator bucket, buldozer, serta dozer untuk mempercepat pembersihan material kayu dan lumpur.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Subhan, menyampaikan bahwa pembersihan difokuskan di Desa Geudumbak yang masih mengalami hambatan akses akibat tumpukan kayu sisa banjir.
“Kami memprioritaskan pembukaan akses jalan dan lingkungan permukiman. Kayu yang masih dapat dimanfaatkan kami kumpulkan di lokasi dan telah dilakukan pengukuran oleh tim BPHL dengan hasil sementara 103 batang kayu atau setara 93,11 meter kubik,” ujar Subhan, Minggu (4/1).

Selain membuka akses jalan, satu unit alat berat dikerahkan untuk membersihkan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan. Tim Kemenhut lainnya yang berjumlah sekitar 50 personel melakukan pembersihan di SD Negeri 4 Langkahan, mencakup ruang perpustakaan, gudang olahraga, dan fasilitas sanitasi sekolah.

Subhan menambahkan, pemanfaatan kayu sisa bencana oleh lembaga kemanusiaan Rumah Zakat bersama masyarakat terus berlangsung secara terbatas dan terukur.
“Pemanfaatan kayu hari ini diperkirakan sekitar tiga meter kubik. Secara akumulatif sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, pemanfaatan mencapai sekitar 18,5 meter kubik. Data ini masih bersifat sementara dan akan terus kami perbarui,” jelasnya. Hingga saat ini, tiga unit hunian sementara masih dalam tahap pembangunan.

Di Kabupaten Aceh Tamiang, personel Balai Pemantapan Kawasan Hutan Sumatera Utara bersama tim Manggala Agni melanjutkan pembersihan material kayu di lorong-lorong permukiman warga terdampak banjir. Kegiatan tersebut bertujuan mempercepat pemulihan lingkungan dan mendukung aktivitas harian masyarakat.

Pada hari yang sama, tim lapangan menerima kunjungan Koordinator BNPB Brigjen Asep yang berdiskusi dengan Staf Ahli Menteri Kehutanan Fahrizal Fikri serta jajaran terkait mengenai penanganan dan pemanfaatan kayu sisa bencana. Pertemuan lanjutan pada malam hari membahas percepatan pembangunan hunian sementara berbahan kayu sisa bencana bersama lembaga kemanusiaan.

Sementara itu di Sumatera Utara, tim Kemenhut menurunkan alat berat untuk menyiapkan lokasi hunian tetap di lahan PTPN. Tim juga menindaklanjuti laporan temuan kayu dalam jumlah besar di Sungai Batang Toru, cabang Aek Rambe.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menyatakan bahwa temuan tersebut masih dalam proses pendalaman.
“Kami sedang melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan asal-usul kayu dan penanganannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Novita.

Kementerian Kehutanan memastikan koordinasi lintas sektor terus diperkuat di Aceh dan Sumatera Utara agar penanganan pascabencana berjalan efektif, aman, dan mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles