Kelahiran Harimau Sumatera di Lampung Perkuat Upaya Selamatkan Spesies Kritis

Latest

- Advertisement -spot_img

Kementerian Kehutanan melaporkan kelahiran dua individu anak harimau sumatera di Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau, Bandar Lampung, sebagai bagian dari penguatan upaya pelestarian satwa dilindungi di Indonesia. Kelahiran ini terjadi pada 2026 dan menjadi tonggak penting karena merupakan reproduksi pertama harimau sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung.

Dua anak harimau tersebut merupakan hasil perkawinan antara induk jantan bernama Kyai Batua dan betina bernama Sinta. Keduanya merupakan satwa hasil penyelamatan dari konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar. Kyai Batua sebelumnya dievakuasi dalam kondisi luka parah hingga harus menjalani amputasi kaki depan kanan, sementara Sinta juga mengalami cedera serius akibat jerat sebelum diselamatkan.

Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa keberhasilan ini mencerminkan efektivitas pengelolaan konservasi berbasis sains dan pengawasan ketat terhadap kesejahteraan satwa. Program pengembangbiakan ini dilaksanakan sesuai rekomendasi Global Species Management Plan (GSMP) yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI).

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung, Agung Nugroho, menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi berbagai pihak. “Kami mengapresiasi capaian ini sebagai bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga konservasi, dan para pemangku kepentingan dalam mendukung pelestarian harimau sumatera,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen dalam mengatasi ancaman utama terhadap populasi harimau, seperti perburuan ilegal dan pemasangan jerat di habitat alami.

Pihak pengelola Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau juga menegaskan bahwa keberhasilan ini menunjukkan potensi reproduksi satwa hasil penyelamatan tetap dapat optimal jika dikelola dengan standar yang tepat. “Ini menjadi bukti bahwa satwa yang diselamatkan masih memiliki peluang berkembang biak secara sehat dan berkontribusi pada keberlanjutan populasi,” kata perwakilan manajemen.

Saat ini, kedua anak harimau dalam kondisi sehat dan terus dipantau secara intensif oleh tim medis veteriner. Pengelola memastikan seluruh proses perawatan dilakukan dengan mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa.

Kementerian Kehutanan menilai kelahiran ini tidak hanya berdampak pada peningkatan populasi, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung edukasi, penelitian, dan peningkatan kesadaran publik. Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat program konservasi, baik di habitat alami (in situ) maupun di luar habitat (ex situ), melalui kolaborasi lintas sektor.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles