Pencegahan karhutla harus menyentuh akar masalah

Latest

- Advertisement -spot_img

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Soewarso menegaskan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) harus menyentuh akar persoalan tata kelola lahan, air, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat agar kebakaran tidak terus berulang.

“Karhutla adalah akibat, bukan sebab. Karena itu, kita harus mencari sumber persoalannya, mulai dari bagaimana tata kelola lahannya, tata kelola airnya, hingga bagaimana masyarakat dan kondisi sosial ekonominya dikelola,” kata Soewarso dalam materi kuliah umum Fakultas Pertanian Universitas Lampung secara daring pada Kamis (24/9/2026).

Kuliah umum bertajuk “Membedah Anatomi Kebakaran Hutan Indonesia: Pencegahan dan Penanggulangannya” tersebut merupakan bagian dari rangkaian penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan APHI.

Kedua pihak sebelumnya telah menandatangani kerja sama untuk periode lima tahun. Kegiatan itu dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Kuswanta.

Dalam kuliah umum, Soewarso menjelaskan bahwa kebakaran yang berulang di lokasi yang sama menunjukkan masih adanya persoalan mendasar yang belum diselesaikan.

Menurut dia, penanganan karhutla perlu menggabungkan kesiapan teknis dengan pendekatan sosial. Penguatan sarana pemadaman dan deteksi dini harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat, perbaikan tata kelola, serta pengembangan alternatif ekonomi yang berkelanjutan.

“Pemadaman tetap penting, tetapi solusi permanen harus dimulai sebelum api muncul. Pencegahan perlu menjadi bagian dari pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Soewarso menguraikan sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian, antara lain penggunaan api untuk membuka lahan karena dianggap murah dan cepat, keterbatasan pengetahuan mengenai dampak kebakaran, serta konflik penguasaan lahan.

Persoalan tersebut, menurut dia, memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat di setiap wilayah. Edukasi perlu disertai pendampingan dan pilihan kegiatan ekonomi yang membantu masyarakat mengurangi ketergantungan pada praktik pembakaran.

Ia juga menekankan pentingnya tata kelola air pada lahan gambut. Penyediaan sumber air, pembangunan embung, dan pengelolaan sekat kanal perlu terhubung dengan pemantauan kondisi lapangan serta sistem peringatan dini.
Pada tingkat operasional, Soewarso mendorong penguatan koordinasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan aparat melalui pertukaran informasi, pemantauan bersama, serta kesiapan personel dan peralatan.
Pendekatan teknis tersebut perlu dipadukan dengan program pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar konsesi agar warga berperan aktif dalam pencegahan.

“Keberhasilan pengendalian karhutla harus terlihat dari risiko yang diketahui lebih dini, keputusan yang diambil lebih cepat, api yang dihentikan sebelum membesar, serta kebakaran yang tidak kembali muncul di tempat yang sama,” katanya.
Christine Wulandari dari Dewan Kehutanan Nasional (DKN) yang juga Guru Besar Manajemen Hutan di Universitas Lampung menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pencegahan karhutla melalui keterlibatan yang bermakna sejak perencanaan hingga evaluasi program.

Menurut Christine, keberlanjutan pencegahan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakat memahami manfaat menjaga hutan sekaligus memperoleh dukungan untuk mengelola sumber penghidupannya secara berkelanjutan.
“Masyarakat perlu dilibatkan sejak mengidentifikasi persoalan, menyusun kegiatan, hingga menilai hasilnya. Dengan keterlibatan itu, pencegahan karhutla dapat tumbuh menjadi kebutuhan bersama,” ujarnya.

Ia menilai kemitraan pemerintah, pemegang izin usaha kehutanan, perguruan tinggi, dan kelompok masyarakat perlu menghasilkan pendampingan yang berkelanjutan. Dukungan tersebut dapat mencakup peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan kelembagaan masyarakat.
Christine juga menekankan pentingnya komunikasi yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat agar pesan pencegahan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Edukasi akan lebih efektif ketika masyarakat memiliki pilihan yang dapat dijalankan. Karena itu, pesan pencegahan perlu disertai dukungan nyata bagi penghidupan dan pengelolaan lahan tanpa membakar,” katanya.

Penguatan tata kelola lahan dan air, kesiapsiagaan teknis, serta pemberdayaan masyarakat menjadi langkah yang saling melengkapi dalam pencegahan karhutla. Kolaborasi yang berkelanjutan diperlukan agar upaya tersebut mampu mengurangi kebakaran berulang sekaligus menjaga kelestarian hutan dan kesejahteraan Masyarakat (**).

- Advertisement -spot_img

More Articles