Pada masa perjuangan kemerdekaan 1945, para pejuang Indonesia mengandalkan segala cara dan perlengkapan yang tersedia untuk mengusir penjajah. Selain senjata ringan dan semangat juang, ada fakta penting: penggunaan kendaraan tempur hasil rampasan. Di pertempuran-pertempuran besar—termasuk pertempuran Surabaya November 1945—para pejuang sudah mengerahkan panser Marmon-Herrington dan sejumlah tank ringan CTLS yang pernah menjadi aset tentara Jepang dan Belanda. Kendaraan-kendaraan tadi memberi keuntungan taktis: mobilitas lebih besar, perlindungan bagi awak, dan daya tembak yang menambah kemampuan serangan serta pertahanan.
Ketika Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, pada November 1949, mereka meninggalkan puluhan kendaraan tempur—sekitar 100-an tank dan panser—yang kemudian menjadi inti kemampuan awal Korps Kavaleri TNI Angkatan Darat.
Peralatan eks-Belanda itu segera dipakai Kavaleri TNI-AD untuk operasi-operasi penting pada awal 1950-an: penumpasan pemberontakan Andi Aziz di Sulawesi Selatan; operasi melawan pemberontak PRRI/Permesta di Sumatera dan Sulawesi; penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku; serta operasi melawan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat. Pengalaman medan tempur menggarisbawahi satu hal: kavaleri bukan sekadar pamer senjata berat; ia adalah kekuatan yang mengombinasikan daya gerak, daya tembak, dan daya kejut.
Menyadari pentingnya transformasi itu, pada akhir dekade 1950-an, pimpinan TNI-AD mengambil langkah strategis. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Brigjen Abdul Haris (A.H.) Nasution, menilai satuan kavaleri sangat penting bagi kekuatan darat. Pada 7 Februari 1959, ia menugasi Inspektorat Kavaleri TNI-AD untuk menyusun doktrin kavaleri sendiri sebagai bagian dari program modernisasi. Melalui Keputusan Inspektorat Kavaleri No. 3/2/Th.1959, Komandan Inspektorat Kavaleri, Mayor Soebagjo Sajid, membentuk Panitia Doktrin Kavaleri Sendiri.
Panitia itu dipimpin oleh Kapten Soesilo Soedarman dan beranggotakan perwira-perwira muda yang telah menimba ilmu kavaleri modern di luar negeri: Kapten Basuki, Kapten Manopo, Kapten Darmodjo, Kapten Hamidi, Kapten Karpoean, Letnan Satu Sahoentoeng, Letnan Satu Rinto Salikan, dan Letnan Dua Harjono P. Mereka menyusun Rangka Organisasi Kavaleri 1960 (ROK’60): dokumen yang bukan sekadar struktur organisasi, tetapi juga cetak biru kebutuhan sistem persenjataan, taktik, dan pengembangan satuan.
ROK’60 membuka jalan bagi pengadaan persenjataan kavaleri modern—panser Ferret, Saladin, Saracen dari Inggris, dan tank ringan AMX-13 dari Prancis. Armada baru ini tiba menjelang operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat (1961–1962) dan kemudian digunakan dalam operasi-operasi lain, termasuk penumpasan Gerakan 30 September/PKI (G-30-S/PKI) pada 1965. Integrasi peralatan impor ke doktrin lokal menunjukkan upaya institusional membangun kemampuan militer yang profesional dan adaptif, dimana pengalaman para perwira yang terlatih di Amersfoort (Belanda) dan Fort Knox, Kentucky (AS) diselaraskan dengan kondisi medan Indonesia.
Untuk mengenang dan mengabadikan periode penting modernisasi kavaleri dan ROK’60, pada Selasa, 1 September 2026, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyerahkan miniatur tank dan panser—AMX-13, Saladin, Saracen, dan Ferret—kepada Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI-AD, yang diwakili Wadan Pussenkav, Brigjen Rayen Obersyl.
Hadir dalam acara, Direktur Pembinaan Kesenjataan Pussenkav, Brigjen Dani Wardhana dan Inspektur Pussenkav, Brigjen Asep Ridwan. Miniatur-miniatur tank dan panser tadi segera diabadikan di Museum Kavaleri TNI-AD di Bandung sebagai bagian koleksi yang memperlihatkan fase modernisasi kavaleri setelah kemerdekaan.
Dalam kesempatan itu, Brigjen Rayen Obersyl menyampaikan apresiasi tinggi kepada keluarga besar senior Korps Kavaleri yang mendokumentasikan peninggalan sejarah tersebut. Ia berharap inisiatif serupa terus berlanjut sehingga koleksi museum semakin lengkap dan bermanfaat sebagai bahan kilas-balik sejarah serta kajian bagi prajurit muda korps kavaleri dan masyarakat umum.
***



